Lebaran dan Sungkeman: Momen Memaafkan dan Mempererat Tali Persaudaraan
Lebaran bukan hanya tentang perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga. Salah satu tradisi yang kental dengan nilai-nilai budaya dan spiritual adalah sungkeman. Tradisi ini terutama berkembang dalam budaya Jawa, tetapi juga dilakukan oleh berbagai suku di Indonesia dengan variasi masing-masing.
Sungkeman adalah prosesi di mana anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda bersimpuh di hadapan orang tua atau sesepuh, lalu meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Dalam suasana penuh haru, orang tua kemudian memberikan restu dan doa bagi anak-anaknya. Tradisi ini melambangkan penghormatan, kerendahan hati, dan kasih sayang.
Sungkeman menjadi bentuk penghargaan kepada orang tua dan sesepuh yang telah mendidik serta membimbing anak-anak mereka. Dengan melaksanakan sungkeman, hubungan antar anggota keluarga semakin erat karena saling membuka hati dan memaafkan. Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya mengakui kesalahan dan meminta maaf, sehingga membangun karakter yang rendah hati dan pemaaf. Selain itu, sungkeman menciptakan suasana damai dan menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi dalam keluarga selama setahun terakhir.
Di beberapa daerah, tradisi sungkeman tidak hanya dilakukan di dalam keluarga, tetapi juga meluas ke lingkungan sekitar. Misalnya, di beberapa desa, masyarakat tetap menjaga tradisi ini dengan bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga, terutama yang sudah berumur. Kegiatan ini menciptakan kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial antar warga, sehingga hampir seluruh desa ikut merasakan suasana Lebaran yang penuh makna.
Saya sendiri tumbuh dalam lingkungan yang masih sangat menjaga tradisi sungkeman ini. Setiap Lebaran hari pertama, selain bersilaturahmi ke rumah keluarga, kami juga berkunjung ke rumah-rumah tetangga, terutama mereka yang sudah lanjut usia. Hal ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan dan kepedulian terhadap sesama. Momen sungkeman selalu terasa emosional, karena di situlah kami benar-benar merasakan arti kebersamaan, keikhlasan dalam meminta maaf, dan kehangatan dalam menerima restu dari orang-orang yang lebih tua. Rasanya sungkeman bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.
Di jalanan, suasana Lebaran semakin terasa saat kita bertemu dengan tetangga dan teman-teman lama. Setiap kali bertemu, kami saling bersalaman dan berbagi ucapan selamat. Tak jarang, percakapan ringan tentang masa lalu dan kebersamaan di hari-hari biasa membuat momen Lebaran semakin hangat dan penuh makna. Salaman bukan hanya sekadar salam, melainkan juga simbol dari hubungan yang tetap terjalin meski waktu terus berjalan. Kehangatan dan kebersamaan yang tercipta dari salaman ini memberi kesan bahwa Lebaran lebih dari sekadar perayaan; ia adalah sebuah ikatan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjalin hubungan baik dengan sesama.
Sungkeman di desa saya bukan hanya dilakukan di dalam keluarga, tetapi juga meluas ke komunitas tetangga. Setiap tahun, hampir seluruh desa menghidupkan tradisi ini dengan berjalan kaki mengunjungi rumah tetangga, terutama mereka yang lebih tua, untuk meminta maaf dan memberikan ucapan selamat. Hal ini mempererat hubungan antar warga, menciptakan suasana gotong royong, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Tidak ada yang terlewat, dan suasana penuh keakraban bisa dirasakan di mana-mana.
Bagi saya, pengalaman sungkeman di desa sangat berkesan. Selalu ada rasa haru saat mendatangi rumah tetangga yang lebih tua. Meskipun pertemuan itu hanya sebentar, tapi ada ikatan emosional yang terbangun dengan doa dan restu yang diberikan. Ini adalah waktu yang tepat untuk menegaskan kembali rasa saling menghormati, menjaga hubungan, dan memperbaharui komitmen untuk hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.
Tradisi sungkeman saat Lebaran lebih dari sekadar seremonial, sungkeman menjadi simbol keharmonisan, penghormatan, dan kasih sayang dalam keluarga. Dalam budaya modern, meskipun cara pelaksanaannya mungkin mengalami penyesuaian, esensi dari sungkeman tetap relevan sebagai wujud mempererat tali silaturahmi dan memper kokoh hubungan kekeluargaan.
Bagi saya, Lebaran bukan hanya tentang makanan lezat atau hadiah, tetapi tentang momen untuk kembali merajut hubungan yang lebih dalam dengan orang-orang terdekat, termasuk keluarga, teman, dan tetangga. Melalui sungkeman, kita belajar untuk lebih pemaaf, lebih menghargai, dan lebih peduli terhadap sesama. Itulah sebabnya, tradisi ini akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di hati saya, dan semoga terus dilestarikan di setiap generasi yang akan datang.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025