Fitria Ningsih
Fitria Ningsih Guru

Ibu satu anak, suka menulis

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Berjabat Tangan, Saling Memaafkan Lebih Dari Sekedar Ritus Belaka

2 April 2025   04:45 Diperbarui: 2 April 2025   04:55 140
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Berjabat Tangan, Saling Memaafkan Lebih Dari Sekedar Ritus Belaka
Dokumen Pribadi: Mohon maaf lahir dan batin

Senja menyapa, buka puasa di ramadhan terakhir telah tiba. Hati sungguh haru bergembira, mendengar takbir tahmid bersahutan menggema.


Allahuakbar, terimakasih atas nikmat ini Ya Tuhanku. Hari raya idul fitri menyapa, membawa kabar gembira. Berkumpulnya semua keluarga jauh, melepas rindu agar kekerabatan tetap utuh.

Memaknai hari raya idul fitri dengan saling memaafkan antar sesama bukan hanya ritus tahunan belaka. Namun mari kita maknai rutinitas tahunan ini dengan niat menjalin silaturahmi dan introspeksi diri.


Ulasan berikut sekaligus untuk mengingatkan diri pribadi. Ada beberapa hal yang kiranya dapat kita maknai dari ritus idul fitri saling berjabat tangan dan memaafkan. Diantaranya sebagai berikut:


Satu, berjabat tangan saling menyadari kesalahan dan tidak gengsi saling bermaafan sangat enteng dilakukan ketika moment idul fitri. Mumpung idul fitri mari kita saling bermaafan.

Kedua, saling berjabat tangan dan saling memaafkan dapat mempererat silaturahmi. Mumpung saudara jauh kumpul semua di rumah orang tua, mari kita manfaatkan untuk saling melepas kerinduan setelah lama tidak berjumpa.

Ketiga, dengan ritus saling memaafkan kita dapat saling introspeksi, saling menjaga agar tidak mengulang berbuat tidak baik lagi.


Keempat, setelah bermaafan mudah- mudahan kita dapat lebih hati- hati dalam menjaga lisan. Kita dapat berkaca dari sebuah petikan kalam ulama, terkait pentingnya menjaga lisan. Berikut sebuah petikan kalam Ulama' Ibnu Al Jauzi rh yang berbunyi " Siapa yang menjaga lisannya di dunia karena Allah Ta'ala, maka Allah akan memberikannya kemampuan mengucapkan syahadat ketika ia wafat dan bertemu dengan- Nya.
Dan siapa yang membiarkan lisannya mencela kehormatan kaum muslimin dan juga mencari aib- aib mereka, maka Allah akan menahan lisannya mengucap syahadat ketika ia wafat".

Sebuah petikan diatas mudah diucapkan, namun pada praktiknya  masih banyak yang saling gibah diantara kita. Semoga sedikit demi sedikit kita dapat meningkatkan introspeksi diri masing- masing, dan bukan malah  terus- menerus mengintrospeksi orang lain. 

Semoga moment idul fitri ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik dari kemarin. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih fokus pada perbaikan diri sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun