Frans Leonardi
Frans Leonardi Akuntan

Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Tantangan Kembali ke Rutinitas Awal Setelah Ramadan

4 April 2025   07:37 Diperbarui: 4 April 2025   07:37 178
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tantangan Kembali ke Rutinitas Awal Setelah Ramadan
Menjalani rutinitas kembali (Unsplash)

Menghadapi transisi setelah Ramadan membutuhkan pendekatan yang bertahap dan realistis. Banyak orang berusaha langsung kembali ke rutinitas lama tanpa memberi tubuh dan pikiran waktu untuk beradaptasi, yang justru membuat mereka semakin stres dan kelelahan.

Langkah pertama yang penting adalah bagaimana menemukan cara untuk menyesuaikan kembali pola tidur. Alih-alih mencoba langsung tidur lebih awal dalam satu malam, lebih baik melakukannya secara bertahap. Cobalah tidur 15--30 menit lebih awal setiap malam hingga tubuh kembali terbiasa dengan jam tidur yang ideal. Hindari konsumsi kafein dan gula berlebihan di malam hari, serta luangkan waktu untuk relaksasi sebelum tidur agar kualitas tidur lebih baik.

Dari segi pola makan, transisi ini juga perlu dilakukan secara bertahap dan perlahan. Jika selama Ramadan tubuh terbiasa dengan porsi makan besar saat berbuka, setelahnya kamu bisa mulai mengurangi porsi secara bertahap dan kembali ke jadwal makan yang lebih seimbang. Perbanyak konsumsi serat dan protein agar energi tetap stabil sepanjang hari, serta hindari kebiasaan ngemil berlebihan yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan.

Kembali ke produktivitas juga bisa menjadi tantangan, terutama setelah libur panjang. Salah satu cara efektif untuk mengatasi rasa malas setelah liburan adalah dengan membuat daftar prioritas dan memulai untuk menyusun jadwal harian yang realistis. Jangan langsung membebani diri dengan pekerjaan berat di hari pertama kembali bekerja, tetapi mulailah dengan tugas-tugas yang lebih ringan untuk membantu tubuh dan pikiran beradaptasi.

Dari sisi mental dan emosional, bagaimana untuk menjaga dan mempertahankan kebiasaan baik dari Ramadan bisa menjadi cara efektif untuk menjaga keseimbangan setelahnya. Jangan langsung meninggalkan kebiasaan ibadah yang sudah dilakukan selama bulan suci. Misalnya, tetap melanjutkan salat tahajud meskipun tidak setiap malam, atau tetap meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an. Hal ini akan membantu menjaga semangat spiritual dan memberikan rasa kedamaian di tengah kesibukan.

Selain itu, aktivitas fisik juga memiliki peran penting dalam membantu tubuh kembali ke rutinitas normal. Berolahraga ringan seperti berjalan kaki, yoga, atau bersepeda bisa membantu meningkatkan energi dan mengurangi stres. Aktivitas fisik juga membantu mengatur ulang pola tidur dan meningkatkan suasana hati, sehingga transisi setelah Ramadan bisa berjalan lebih lancar.

Kesimpulan

Kembali ke rutinitas setelah Ramadan bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Tantangan yang muncul adalah konsekuensi alami dari perubahan kebiasaan selama sebulan penuh, dan yang terpenting adalah bagaimana cara menghadapinya dengan pendekatan yang tepat.

Menyesuaikan kembali pola tidur, mengatur pola makan dengan lebih sehat, mempertahankan kebiasaan baik yang telah terbentuk, serta melakukan transisi secara bertahap adalah kunci utama agar tubuh dan pikiran bisa kembali ke ritme normal tanpa merasa tertekan. Selain itu, menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental juga penting agar tidak merasa kewalahan dalam menjalani hari-hari setelah Ramadan.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menjalani satu bulan penuh ibadah, tetapi juga bagaimana kamu bisa membawa nilai-nilai positifnya ke dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Dengan pendekatan yang tepat, kembali ke rutinitas bukanlah akhir dari Ramadan, tetapi justru menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih seimbang dan bermakna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun