Lebaran Minimalis, Bahagia Maksimal
Konsep Break The Twitch---melawan dorongan belanja impulsif---bisa jadi senjata ampuh. Alih-alih menghabiskan Rp500.000 untuk baju baru, kenapa tidak restyling baju lama dengan menambahkan bros bordir atau kain kebaya nenek?
Cerita saya ini bukan teori: tahun 2024, istri saya hanya membeli satu pasang sarung tangan untuk mix and match dengan gamis tahun sebelumnya. Hasilnya? Dompet tetap utuh, lemari tidak overdosis, dan bumi tersenyum lega.
Bagi yang *ngotot* ingin belanja, mari berhitung matematika cinta lingkungan. Jika biasanya Anda membeli tiga baju Lebaran, coba kurangi jadi satu. Uang yang dihemat bisa dialihkan untuk membeli sembako bagi lansia di panti asuhan. Bayangkan: satu baju kurang = sepuluh senyum tambah. Deal?
Tradisi bukanlah monumen kaku yang tak boleh diubah. Dulu, kakek saya merayakan Lebaran dengan menyambung kain perca menjadi baju baru.
Kini, kita bisa mengadopsi semangat itu dengan cara modern: menyewa pakaian (fashion rental), membeli secondhand yang masih bagus, atau menggelar bazaar swap antar tetangga. Siapa tahu, baju vintage Anda bisa jadi harta karun bagi orang lain!
Jangan lupa, silaturahmi adalah inti Lebaran. Alih-alih menghabiskan anggaran untuk baju baru, bagaimana kalau alokasikan dana itu untuk membuat kue lebaran bersama anak yatim?
Atau, mengganti plastik angpao dengan biji tanaman sebagai simbol harapan? Tahun lalu, keluarga saya mencoba hampers zero-waste: parsel berisi madu lokal dalam toples kayu yang bisa dipakai ulang. Resipien pun senang---tak ada sampah, hanya kenangan manis.
Soal dekorasi, jangan terjebak rush hour belanja *item sekali pakai. Daun kelapa kering bisa disulap jadi lukisan kaligrafi, sementara lampu tumbler dari botol bekas memberi kesan instagrammable tanpa toxic bagi lingkungan.
Percayalah, kepikiran nenek yang menghias rumah dengan janur dan buah pala lebih aesthetic daripada balon impor!
Memang, mengubah kebiasaan itu seperti mencabut akar singkong---perlu kesabaran. Tapi bayangkan jika 270 juta orang Indonesia mengurangi satu baju Lebaran: kita menghemat 729 miliar liter air, cukup untuk memenuhi kebutuhan 10 juta keluarga! Angka itu bukan sihir, tapi matematika kesadaran.
Di akhir hari, Lebaran adalah tentang memori. Bukan soal seberapa mentereng baju kita, tapi seberapa hangat pelukan untuk keluarga.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025