KOMENTAR
RAMADAN Pilihan

[Fiksi] Hilal Telah Nampak, Aku Hanya Ingin Pulang

23 Mei 2020   16:59 Diperbarui: 23 Mei 2020   17:01 234 14

Tak ada bahagia dalam hati Rini,  walau ponsel selalu berdering ada saja yang mengajak berdiskusi atau chit chat seadanya. Tidak ada yang akan membuat bibirnya tersenyum. Karena dia sedang tak ingin bergembira walau telah diumumkan bulan baru telah nampak, pertanda berakhirnya ramadan.

Dia memandang ke langit yang masih gelap hari terakhir berpuasa. Ini tidak mudah jauh dari saudara bahkan orang tua, menahan diri entah sampai kapan bisa bertemu mereka. Sedang esok adalah hari raya idul fitri yang seharusnya menjadi momen bahagia untuk nersilaturahmi berkumpul dengan keluarga.

Rini menyeka air mata yang membasah di pipi. Tugas belum usai tapi di luar sana telah banyak yang bergembira,  akan ada berapa korban lagi setelah ini yang makin memperpanjang waktu untuk berjauhan. Makan sahur masih lama Rini mengenang kembali masa kecil yang menyenangkan ketika menjelang malam takbir.

Sore hari membagi-bagikan nasi kuning istilahnya megengan menyambut bulan baru,  bulan syawal. Lalu Ibu dan Bapaknya akan berbelanja baju baru ke kota, membeli kue dan kembang api untuknya. Rini akan menunggu dengan setia hingga tertidur di depan televisi.
Semua berduyun-duyun ke lapangan esok pagi menjalankan solat Id, bergembira dan bersuka ria. Hingga tahun kemarin masih terasa kehangatan berkumpul keluarga. Rini menarik napas dalam berusaha melapangkan dada yang menyesak. Sepertinya secangkir kopi masih menjadi teman setianya, tak ada lagi selera untuk makan sahur.

****

Banyak ucapan hari raya masuk di jaringan pribadinya serta ucapan semangat dan bersabar. Dia hanya membalas dengan emotikon senyum dan kata terima kasih. Kegiatannya hanya membersihkan kamar kos dan duduk dekat jendela menikmati sore sambil menunggu gema takbir berkumandang.

'Ya Allah lapangkan hati ringankan pikiran menghadapi keadaan yang jauh dari ekspektasi.'

Sepertinya Rini benar-benar dalam suasana yang tidak baik-baik saja. Walau berusaha menghibur diri dengan cara apa pun.

"Rini,  apa ada di dalam?"

"Iya,  masuk saja pintu gak dikunci."

"Rin,  ntar malam takbiran kita buat acara yuk,  aku tadi sudah beli kembang api juga loh."

"What? Acara apa?"

"Gak ada gunanya kan larut dalam kesedihan,  kita sama-sama tidak bisa pulang ke rumah lebaran ini untuk bersilaturahmi bukan berarti harus galau kan?"

"Apa rencanamu?"

"Kita ke atas,  memandang cerahnya langit, menyalakan kembang api dan makan mie bersama,  bagaimana?"

"Boleh juga."

"Kita buat kenangan menikmanti malam takbir di tempat jemuran karena tak bisa mudik,  ha ha."

"Ok aku setuju deh dari pada manyun tiada tara."

Bedug magrib pertanda puasa hari terakhir usai,  syawal telah menanti dengan semangat baru.
Sayup-sayup terdengar gema takbir dari sebuah masjid mungkin hanya takmir masjid yang bertugas tak ada kerumunan orang,  karena masih dibatasi.

Rini dan Santi telah menggelar tikar di atas, menikmati kopi malam takbiran dan membuat vlog agar keluarga tidak menghawatirkan, mereka masih bisa bergembira walau tak bisa berkumpul untuk sementara.

"San,  kita pasti bisa pulang kan?"

"Pasti Rin. In shaa Allah."

"Selamat Idul Fitri ya San,  maaf bila aku kurang bisa jadi teman seperti maumu."

"Sama Rin, aku juga mohon maaf, eid mubarok."

"Apa yang membuatmu merasa sedih San?"

"Pernikahanku tertunda."

"Owh, turut prihatin, semoga setelah ini banyak kemudahan ya."

"Aamiin."

"Kalau kamu?"

"Hanya ingin pulang, kangen opor ayam bunda."

"Gak ada yang lain?"

"Kepo, Ha ha ha."

Mereka habiskan malam dengan bergurau dan saling menasehati.  Malam takbir jadi intropeksi buat Rini belajar bersabar.

KEMBALI KE ARTIKEL


Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Laporkan Konten
Laporkan Akun