Mohon tunggu...
Ludiro Madu
Ludiro Madu Mohon Tunggu... Dosen

Mengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN 'Veteran' Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Perdamaian Ukraina-Rusia: Antara Harapan dan Kenyataan

13 Maret 2025   13:45 Diperbarui: 13 Maret 2025   19:14 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Solidaritas untuk Rakyat Ukraina melakukan aksi damai di depan Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Jumat (4/3/2022). Dalam aksinya tersebut mereka menyerukan untuk menyetop operasi militer Rusia terhadap Ukraina dan diwujudkannya perdamaian.(ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT via KOMPAS.com) 

Konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia kini memasuki fase perundingan diplomatik yang sangat kritis. Pertemuan di Arab Saudi menandakan momen strategis yang potensial mengubah dinamika perang yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun ini. 

Siapa menyangka bahwa Arab Saudi tiba-tiba berperan sebagai juru damai antara Rusia dan Ukraina. Memang bukan sekadar pertemuan biasa, peristiwa itu menghadirkan kompleksitas geopolitik yang membutuhkan pendekatan multidimensional.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kelihatannya menunjukkan sikap kooperatif, walau tetap waspada dengan menerima usulan gencatan senjata 30 hari dari Amerika Serikat. 

Keberanian politiknya terlihat dari syarat yang diajukan, yaitu: Washington harus secara aktif membujuk Moskow untuk menerima proposal tersebut. Ini bukan sekadar taktik diplomasi, melainkan refleksi dari mendalamnya ketidakpercayaan Ukraina yang telah terakumulasi selama konflik.

Peran Amerika Serikat (AS) melalui Presiden Donald Trump dalam negosiasi kali ini sangat jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya. Presiden yang sempat dikritik keras karena sikap kontroversialnya kini tampil sebagai mediator potensial. 

Namun, motivasi Trump tentunya tidak sepenuhnya murni. Rencana pertukaran mineral antara Ukraina dan AS mengindikasikan adanya kepentingan ekonomi strategis di balik kegigihan AS mendamaikan kedua pihak.

Kompleksitas masalah

Kompleksitas persoalan terletak pada beberapa faktor kunci. Rusia hingga saat ini sudah menguasai 20% wilayah Ukraina. Realitas ini bakal sangat sulit diselesaikan melalui perundingan sederhana. 

Zelensky membutuhkan jaminan keamanan konkret. Sementara itu, Putin ingin memastikan kepentingan geopolitiknya terlindungi. Kedua belah pihak sama-sama memiliki "garis merah" yang tidak dapat dilewati.

Yang juga tidak kalah kompleks adalah Eropa. Selama ini, Eropa menjadi pemain kunci dalam perang Rusia-Ukraina, namun kenyataan pada saat ini malah menempatkan Eropa di posisi marjinal dalam upaya perdamaian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun