Kepala Babi di Meja Redaksi: Sebuah Simbol, Sebuah Cerita
Babi juga hadir dalam kritik filsafat hedonisme. Epikurus, filsuf Yunani kuno, sering dikarakterisasi sebagai seseorang yang hidup seperti babi karena ajarannya tentang kenikmatan. Namun, bagi Epikurus, kenikmatan bukan berarti kerakusan, melainkan pencapaian ketenangan jiwa.
Menghadapi Ancaman: Jurnalisme yang Bertahan
Bagi TEMPO, ancaman ini bukan yang pertama. Sejak era Orde Baru, majalah ini kerap menjadi sasaran intimidasi. Namun, seperti yang berulang kali ditunjukkan, kekuatan pers tidak terletak pada kebal terhadap ancaman fisik, melainkan pada keberanian untuk terus menulis.
Di dunia yang semakin sarat dengan simbol dan pesan tersembunyi, pengiriman kepala babi ke jurnalis atau redaksi menjadi pengingat bahwa kebebasan pers selalu dibayar dengan harga tertentu. Dan harga itu, sering kali, adalah keberanian untuk menghadapi gelapnya ancaman dengan terang kebenaran.
Sebagai pembaca, kita diundang untuk melihat lebih dalam. Di balik simbol itu, ada narasi panjang tentang kekuasaan, ketakutan, dan perlawanan. Kepala babi, dengan segala bebannya, bukan sekadar ancaman. Ia adalah sebuah cerita yang layak untuk diceritakan kembali.
Ramadan Bercerita 2025: Tentang Babi di Redaksi TEMPO
Di bulan Ramadan, kisah itu masih bergema. Kepala babi dalam kardus di meja redaksi TEMPO menjadi simbol bisu yang berbicara tentang ketakutan dan keberanian. Di saat banyak orang menjalani puasa dengan menahan amarah dan hawa nafsu, ada yang memilih jalan sebaliknya --- mengirim pesan melalui simbol kekerasan.
Namun, Ramadan juga mengajarkan makna perenungan. Babi, yang dalam banyak ajaran dianggap najis, justru menjadi cerminan atas kerakusan, keserakahan, dan ketidakadilan. Di sisi lain, ia juga menjadi simbol kekuatan untuk menghadapi ketakutan.
Ketika malam-malam Ramadan dilalui dengan tafakur, ada pertanyaan yang menggelayut: Siapa yang sebenarnya ditakuti? Wartawan yang menuliskan kebenaran, atau mereka yang takut pada bayang-bayangnya sendiri?
Redaksi TEMPO mungkin telah menerima kardus berisi ancaman, tapi mereka juga menerima sebuah pengingat --- bahwa suara yang jujur tak bisa dibungkam. Ramadan bercerita tentang perjuangan manusia melawan hawa nafsu, dan bagi jurnalis, itu berarti melawan bisikan-bisikan yang ingin menghapus kebenaran.
Karena setelah sahur dan tarawih, akan selalu ada pagi. Dan di pagi itu, berita tetap ditulis.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025