Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Full Time Blogger

www.muslifaaseani.com | Tim Admin KOLOM | Tim Admin Rinjani Fans Club

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Frugal, Slow atau Kahanan Living?

31 Maret 2025   11:00 Diperbarui: 2 April 2025   00:57 298
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Frugal, Slow atau Kahanan Living?
Makanan dan minuman salah satu standar, tingkat kesejahteraan kita. Dokpri

Teluk Dalem, Lombok Utara. Alhamdulillah, Hari Fitri 2025, bisa kami datangi di Senin, 31 Maret. Saya dan putra bungsu saya. Masjid Nurul Hidayah, desa Medane, kecamatan Tanjung, kabupaten Lombok Utara, satu di antara -- bisa jadi, jutaan masjid se-Indonesia yang sedang serentak melaksanakan sholat sunnah muakkaddah sekali setahun ini.

Imam dan Khotib, ustadz Rizamul Akbar. Sedikit yang bisa saya tangkap dari yang disampaikan di rangkaian pelaksanaan sholat sunnah Iedul Fitri di masjid ini. Dekat. Jalan kaki normal saja, sekitar 20 menit bolak balik. Naik motor? Hampir lupa kalau tarik gas, rasanya sudah harus parkirkan motor di halaman masjid.

Lebaran tahun ini, rasanya kali kedua saya merasa berhasil menahan diri. Tak ada baju dengan label dan price tag sekian digit. Kuliner khas lebaran, ya beli jadi dan ada yang bersedia memasakkan. Jauh lebih enak pula. Hadiah terbesar adalah, bisa sehat dan berkumpul bersama suami serta anak.

Lalu, seperti apa tepatnya Lebaran minimalis itu? Apakah selalu tidak membeli baju baru, memasak hidangan lengkap nan mewah, atau sebenarnya tentang apa? Diskusi yuk ..

Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar.

Dua rakaat sholat Ied selesai juga. Tadi pagi. Sekira pukul 7 sampai sedikit lewat dari 8 pagi. Sedikit yang bisa saya teruskan, siratan serba positif dari dakwah Imam, di antaranya;

Pertama, perayaan hari kemenangan, adalah tentang kelegaan luar biasa. Telah dimampukan beribadah selama ramadan. Wajib yang utama, berpuasa sejak sebelum Subuh sampai berbuka tepat saat adzan Maghrib. Imam mengingatkan, ibadah super istimewa ini, berbeda tingkat dibandingkan pertandingan bola misalnya. Utamanya, kemenangan yang dirayakan, terbesarnya kemenangan karena diberkahi rezeki kesempatan, kesehatan, beribadah rutin khusus selama ramadan.

Kedua, menggaris_bawahi, setelah proses ibadah, hendaknya pula berpikir positif.  Husnudzon. Ikhtiar kita telah terlaksana. 20 rakaat Tarawih, 3 rakaat Witir, sholat-sholat malam lainnya, sholat-sholat sunnah tambahan. Sisanya, penuh-penuh berharap, diterima Tuhan Sang Maha Kuasa. Cukup pantas sebagai penambah pundi tabungan kebaikan personal.

Ketiga, puasa adalah tentang merawat suburnya pohon empati. 13 jam berpuasa, tidak mengurangi keharusan bekerja. Mencari rezeki. Merasakan ada sebagian dari kita yang sekuat apapun ikhtiar hidup mereka, qadarullah memiliki kehidupan yang sulit. Makan sekali sehari sudah sungguh baik. Makan hanya sekali sehari inilah, yang kita pelajari melalui puasa. Turut merasakan lapar, haus. Lalu, ketika akhirnya berbuka, melangitkan rasa syukur luar biasa. Hidup kita masih sangat serba berkecukupan. 

Keempat, esensi menahan diri. Ibadah ramadan padat, intens, puluhan rakaat. Namun lidah tajam masih terasah Menyakiti banyak hati. Di sini, Imam mengingatkan, bahkan deretan kata tajam lidah tak bertulang, penggelincir kita dari deretan kebaikan ibadah yang telah kita lakukan. Esensi menahan diri inilah, yang patut dirayakan pada 1 Syawal. Dengan catatan, kita memang berhasil melakukannya dengan baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun