Meminta Maaf dan Memaafkan: Kunci Ketenangan Batin
Meminta maaf dan memaafkan adalah bagian penting dalam kehidupan sosial manusia. Setelah melewati proses tersebut, suasana hati seseorang bisa mengalami perubahan. Baik yang meminta maaf maupun yang memberi maaf, keduanya merasakan dampak emosional yang berbeda namun membawa ketenangan.
Bagi yang meminta maaf, perasaan bersalah menjadi beban tersendiri, terutama jika kesalahan tersebut berdampak besar pada orang lain. Akan ada rasa cemas atau takut jika permintaan maaf tidak diterima. Namun, ketika permintaan maaf disampaikan dengan tulus, maka akan muncul rasa lega dalam diri. Meminta maaf bukan hanya sekedar ucapan kalimat, tetapi juga bentuk tanggung jawab dan keberanian dalam mengakui kesalahan.
Di sisi lain, orang yang memberi maaf juga mengalami perubahan suasana yang positif. Mungkin pada awalnya akan timbul rasa kecewa, marah, atau sakit hati. Namun, ketika memutuskan untuk memaafkan, hati menjadi lebih ringan dan tenteram karena sudah tidak ada lagi kebencian pada orang tersebut.
Memaafkan bukan berarti melupakan sepenuhnya kesalahan yang terjadi, tetapi lebih kepada melepaskan dendam dan membuka hati untuk kedamaian. Dengan memaafkan, seseorang dapat membebaskan dirinya dari beban emosional yang bisa berdampak negatif bagi kesehatan mental dan fisiknya.
Bagi kesehatan mental, meminta maaf dan memaafkan membantu mengurangi rasa stres dan kecemasan yang berlebih. Suasana hati yang membaik setelah meminta maaf dan memaafkan dapat meningkatkan kualitas hidup, membuat seseorang lebih fokus pada hal-hal positif.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025