saya memiliki hobi menulis dengan konten bertemakan pendidikan, sejarah, wisata, atau tentang pengalaman pribadi.
Makna Dibalik Lagu "Hari Lebaran"
Lagu ini tidak hanya sekedar lagu perayaan Idul Fitri saja, namun lagu ini juga mencerminkan bermacan-macam fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat saat perayaan Idul Fitri tiba. Lagu ini ditulis dengan nuansa lirik yang ceria namun kritis. Lagu ini berhasil mengabadikan tradisi, kegembiraan, dan ironi yang seringkali terjadi saat momen lebaran tiba.
Kekuatan utama dari lagu yang diciptakan oleh Ismail Marzuki ini adalah terletak pada rangkuman esensi pada perayaan Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh di Bulan Ramadhan. "Setelah berpuasa satu bulan lamanya, berzakat fitrah menurut perintah agama" lirik tersebut mengandung makna bahwa setelah satu bulan berpuasa ada kewajiban yang dilakukan umat Islam ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri tiba yakni kewajiban untuk membayar zakat. "Kini kita beridul fitri berbahagia, mari kita berlebaran bersuka gembira, berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan, hilang dendam habis marah di hari lebaran" lirik ini menggambarkan bahwa semangat merayakan Idul Fitri dengan kebersamaan, kegembiraan, dan saling memaafan.
Akan tetapi dibalik nuansa kegembiraan yang tergambar di dalam lirik lagu tersebut, Ismail Marzuki dengan cerdas menyisipkan sebuah kritikan sosial terhadap fenomena-fenomena yang terjadi ketika Hari Lebaran tiba. Salah satunya adalah ketika masyarakat desa pergi berbondong-bondong ke kota dengan pakaian yang serba baru dan serba indah walaupun menghadapi kesulitan perjalanan yang melelahkan. Fenomena ini tergambar pada lirik yang berbuni "Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore, akibatnya tengteng selop sepatu terompe kakinya pada lecet babak belur berabe".
Lirik yang lebih tajam lagi tergambar pada lirik lagu yang setelahnya. Bunyi liriknya yakni "Cara orang kota berlebaran lain lagi, kesempatan ini dipakai buat berjudi.
Sehari semalam main ceki mabuk brandi. Pulang sempoyongan kalah main pukul istri.
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate. Si penjudi mateng biru dirangsang si istri". Lirik ini menggambarkan fenomena yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kota yang menyalahgunakan momen lebaran untuk mabuk-mabukan. Tentu fenomena ini justru menagabaikan esensi dari perayaan Idul Fitrih dan malah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan kemaksiatan.
Diakhir lagu ini ada lirik yang menyentil tindakan-tindakan korupsi yang mulai marak dilakukan oleh para pejabat pada masa itu. Lirik itu berbunyi "Kondangan boleh kurangin, korupsi jangan kerjain". Bahkan tidak hanya itu, lirik ini juga mengajak masyarakat untuk menjauhi macam-macam perilaku yang dapat merusak moral.
Kritik Ismail Marzuki dalam lagunya yang berjudul "Hari Lebaran" masih relevan hingga sekarang. Praktik korupsi yang dilakukan oleh para pejabatan di berbagai sektor masih menjadi sebuah tantangan yang begitu besar. Korupsi sangat merugikan masyarakat bahkan merusak nilai-nilai keadilan. Korupsi yang merajalela adalah penyebab utama masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial. Banyak para pejabat yang memperkaya diri sendiri padahal dana dari negara tersebut harusnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Padahal idealnya seorang peimpin adalah harus menjamin kesejahteraan rakyat.
Banyak rakyat yang masih kesulitan ketika menjelang lebaran tiba. Biaya kebutuhan pokok melonjak dan biaya mudik semakin mahal. Selain itu, banyak pejabat yang pamer kemewahan hingga open house yang besar-besaran. Tentunya kondisi seperti ini sangat kontras dengan kondisi masyarakat kita yang masih banyak kesulitan. Ini menunjukan bahwa spirit Lebaran yang dimaknai sebagai sebuah momen kesederhanaan sering dikaburkan oleh tindakan korupsi dan gaya hidup yang hedonis.
Ismail Marzuki yang dikenal sebagai seorang komponis yang sangat kritis terhadap kondsi sosial politik menulis lagu yang berjudul "Hari Lebaran" dengan kritik yang sangat tajam. Liriknya tidak hanya menggambarkan suasana kegembiraan ketika perayaan Lebaran tetapi juga sindiran bagi pejabat yang menikmati kekayaan dari hasil korupsi sementara rakyat kecil masih harus berjuang untuk membeli baju baru dan mudik untuk berlebaran di kampung.
Lagu yang berjudul hari lebaran ini mengandung pesan moral yang sangat kuat. Mulai dari pesan untuk selalu bersilaturahmi, hingga kritik sosial terhadap perilaku yang menyimpang dan praktik korupsi yang dilakukan oleh kalangan pejabat. Melalui lagu ini sebenarnya Ismail Marzuki berpesan kepada kita bahwa Idul Fitri tidak hanya sekedar perayaan, namun juga bagaimana kita harus menghindarkan diri dari perilaku tercela dan menyimpang termasuk tindakan korupsi yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai keadilan.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025