Dr. Agus Hermanto
Dr. Agus Hermanto Dosen

Dr. Agus Hermanto adalah dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Lampung, selain itu juga aktif menulis buku, jurnal, dan opini. Penulis juga aktif di bidang kajian moderasi beragama, gender dan beberapa kajian kontemporer lainnya.

Selanjutnya

Tutup

TRADISI Pilihan

Tradisi Thethek Gema Sahur di Kampung yang Nyaris Hilang

17 April 2022   05:35 Diperbarui: 17 April 2022   06:07 628
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tradisi Thethek Gema Sahur di Kampung yang Nyaris Hilang
Tradisi. Sumber ilustrasi: UNSPLASH

Thethek adalah gema suara anak masjidan, disebut masjidan karena biasanya mereka minep di masjid, musholla atau langgar, surau, atau sering juga disebut (ngalong) karena biasanya malamnya ngaji, paginya pulang. 

Thethek adalah apresiasi para pemuda masjid dimaksud yang sedang keliling kampung untuk membangunkan sahur, disebut thethek karena bahan alat tersebut dibuat dari bambu yang diberi lubang halnya kentongan, yang dipukul dengan menggunakan kayu atau belahan bambu yang menimbulkan bunnyi "thek, thek... thek. ". 

Dari suara itulah kemudian oleh masyarakat kampung disebut thethek. Disebut anak masjidan karena mereka biasanya minep di masjid malam harinya, dengan tidak membawa bekal apapun dari makanan, kecuali baju yang digunakan, jika misalnya masjid tersebut dilingkungan pesantren malamnya terkadang ikut kajian kitabnya yang mana pada saat sekitar sahur, mulailah keliling membangunkan warga sekitar, dengan kekompakan memukul thethek yang disiapkan nya dengan pukulan kompak.

Tradisi thethek sebagai bentuk rasa gembira ria datangnya bulan Ramadhan, atau memperingati bulan Ramadhan di malam hari pada waktu sahur. Adanya thethek hanya di malam Ramadhan saja tidak pada malam lainnya selain bulan Ramadhan. 

Selain bertujuan membangunkan warga sekitar juga sekaligus melatih anak masjidan untuk bersama-sama gembira, bisa dikatakan ekspresi kegembiraan di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah akan haramkan jasadnya untuk masuk kedalam api neraka" (HR.Bukhari Muslim). 

Suara thethek yang begitu meriah karena dipukul secara bersama-sama serempak sambil keliling kampung begitu nyaring sehingga dapat mudah didengarkan oleh orang-orang yang hendak bangun sahur, ditambah dengan kemeriahan shalawatan ala-ala ajaran para wali yang melekat pada jiwa masyarakat Indonesia, sedikit agak kuno karena seni tradisional lama, namun semaraknya menggema seantero sudut-sudut pojok desa, sampai pada titik rasa cinta terhadap saudara-saudara seiman dan setaqwa. 

Dengan pukulan demi pukulan suara thethek yang kian menggema, menjadi semarak sahur semakin terasa nilai-nilai kebersamaan dan kesalingan, yaitu saling mengingatkan dan saling perhatian. 

Yang sudah bangun mempersiapkan diri untuk sahur dan yang belum bangun untuk segera bangun mengambil sahur, tradisi thethek pada masa sebelum adanya listrik, mereka pemuda masjid hanya menggunakan obor, yaitu lampu yang terbuat dari potongan bambu uang ujung bawahnya adalah (ros-rosan) yang berfungsi untuk menyimpan minyak, sedangkan  atasnya dipotong (ros-rosan nya) untuk diberi kain yang digunakan untuk menyalakan kain atau (serabut kelapa) yaitu kulit kelapa, setelah itu dinyalakan dengan korek api, akan menimbulkan sinar, yang dapat menerangi kegelapan malam. Jadi, pada waktu itu sebagian membawa kentongan dari bambu dan sebagian membawa obornya.

Keberkahan Ramadhan semakin terasa dengan suasana meriah kebersamaan tersebut, perasaan berat untuk tidak bangun sahur tiba-tiba terbangun dan dengan serentak. Selain itu juga menguji keimanan kita, apakah kita termasuk orang yang benar-benar berniat untuk mencari keberkahan di waktu sahur atau justru sebaliknya. 

Mari kita bersama-sama mencari keberkahan di bulan Ramadhan dengan banyak cara, dari puasanya di siang hari, dari sahurnya pada malam hari, dari iftharnya yang memiliki kekhususan tersendiri, dari tadarrusnya yang biasanya mungkin hanya membaca al-Qur'an setelah shalat saja namun pada Ramadhan terkadang lebih banyak membacanya pada saat-saat luang, dari malam lailatul qadarnya yang ditunggu pada malam-malam ganjil, dari nuzulul Qur'an nya dengan peringatan malam besar tapak tilas perjalanan baginda Rasul yang menemui awal turunnya wahyu, dari i'tikafnya yang kerap dilakukan di masjid-masjid demi mencari keberkahan Ramadhan maupun dari shadaqah nya yang terkadang sering berbagi kepada guru, orang tua dan sanak saudara tetangga, zakatnya yang memang merupakan haul yang harus dikeluarkan, dan dzikirnya maupun silaturahmi nya, sungguh luas keberkahan Ramadhan, semoga kita semua dapat menemuinya dengan kesempurnaan nya.

Saat ini, tradisi thethek semakin kreatif dan maju. Dulu hanya menggunakan bambu yang berlubang, yang dipukul sederhana secara bersama-sama, yang menghasilkan gema suara serasa tradisi yang khas di masyarakat perkampungan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun