Seorang Pemuda kampung yang memiliki mimpi besar, mencoba lakukan hal terbaik dalam ruang ruang kebermanfaatan
Terangkahku di Tengah Kegelapan: Cerita Mengharukan Masa Kecil di Bulan Ramadan
Setelah beberapa menit berbicara dengan anak-anak tersebut, ayah kami berhasil membuat mereka pergi dan berjanji untuk tidak lagi bermain petasan di depan rumah kami.
"Alhamdulillah, ayah kita berhasil mengatasi masalahnya. Kita bisa fokus puasa lagi," kata Sarah dengan senyum lega.
Aku dan Sarah kemudian melanjutkan kegiatan puasa kami dengan semangat. Kami membaca Al-Quran bersama, membaca buku, dan bahkan menggambar untuk mengisi waktu senggang kami. Namun, ada satu momen yang paling membekas dalam ingatan kami saat itu.
Ketika waktu berbuka puasa semakin dekat, aku dan Sarah memutuskan untuk membantu ibuku mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa. Kami berlomba-lomba untuk memotong sayuran dan menggoreng kue yang akan kami sajikan nanti.
"Tolong cepat ya, masih sebentar lagi waktu berbuka puasa," kata ibuku sambil tersenyum.
"Siap, bu!" jawab kami serentak.
Namun, ketika kami hampir selesai mempersiapkan makanan, tiba-tiba listrik mati dan kami menjadi panik. Kami tidak bisa melihat apa-apa dan bahkan tak bisa menghidupkan alat dan lampu senter yang ada pun tidak bisa digunakan karena baterainya sudah habis.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sarah yang terdengar sedikit panik.
Aku mencoba untuk tenang dan mencari jalan keluar dari situasi tersebut. Tiba-tiba, aku teringat bahwa kami memiliki lilin cadangan di dalam lemari.
"Aku akan cari lilin di dalam lemari, kalian tetap di sini ya," kataku pada mereka sambil berjalan dengan hati-hati di dalam gelap.
Setelah beberapa saat mencari, aku berhasil menemukan lilin cadangan tersebut dan segera membawanya ke ruang tengah. Dengan hati-hati, aku menyalakan lilin dan lampu di ruang tengah pun terlihat terang kembali.