Amirsyah Oke
Amirsyah Oke Administrasi

Pemerhati Keuangan negara. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Puasa Jauh dari Keluarga Tak Lagi Merana

6 Mei 2019   14:42 Diperbarui: 6 Mei 2019   15:03 42
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puasa Jauh dari Keluarga Tak Lagi Merana
Ilustrasi Video Call (Gambar diambil dari Kompas.com)

Tuntutan tugas dan pekerjaan seringkali membuat terpisah dari keluarga. Tentu saja ada perasaan berbeda tidak bisa tinggal bersama-sama keluarga, entah itu orang tua, kakak, adik, suami, istri dan anak-anak. Kerinduan melanda setiap waktu, dan pada momen-momen tertentu kerinduan mencapai puncaknya, seperti dalam bulan Puasa. Tak jarang tanpa terasa air mata jatuh tertumpah mengingat orang-orang yang dicintah berada nun jauh disana.  

Tahun 1998 saya pertama kali merasakan berpisah dari keluarga selama beberapa tahun karena harus bertugas di Jayapura Papua. Ketika berangkat dan dilepas oleh keluarga, tangisan tak tertahankan karena harus mengalami perpisahan. Kesepian dan kerinduan melanda setiap hari.

Untuk melepas rindu, hanya bisa dilakukan melalui surat yang dikirim lewat Kantor Pos yang biayanya murah namun sampainya lama. Cara lainnya dengan melakukan telpon interlokal, bisa cepat mendengar suara orang yang dicintai dan dirindukan, namun biayanya relatif mahal sehingga harus mengontrol waktu jika tidak ingin tagihan membengkak. Saat itu telepon seluler atau handphone belum familiar karena harganya yang sangat mahal.

Namun kini kondisinya sudah sangat berbeda. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan hubungan jarak jauh yang lebih mudah, cepat dan bisa langsung bertatap muka seolah sedang berada di tempat yang sama walaupun terpisah jarak yang sangat jauh. Biayanya pun jauh lebih murah.

Tinggal menggunakan aplikasi video call yang berbasis internet, maka kita sudah dapat berjumpa dengan orang-orang yang dicintai, yang dirindukan. Berbicara empat mata ataupun beramai-ramai, melihat tangisan, senyuman dan canda tawa. Banyak hal yang bisa dilakukan seolah sedang berada di tempat yang sama.

Saat makan bisa sambil video call. Saat menjelang tidur bisa video call. Bangun tidur bisa langsung video call.  Sedang rekreasi bisa sambil video call. Hingga membimbing anak belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah bisa menggunakan video call.

Apalagi di bulan puasa seperti saat ini. Intensitas video call akan jauh lebih sering. Di hari pertama sahur, istri saya mengingatkan melalui aplikasi Whats app. Istri dan anak-anak di Jakarta bisa melihat saya yang sedang bersantap sahur dan sebaliknya. Meskipun saya sedang berada di Pulau Muna Sulawesi Tenggara yang berjarak 2.300 km dari Jakarta. Demikian juga saat berbuka, tetap bisa dilakukan bersama-sama keluarga. Tinggal mengaktifkan video call saja.

Memang masih ada rasa kurang puasnya, nama juga manusia :) Kita tidak bisa melakukan kontak fisik seperti menyentuh, membelai, mencium, ataupun menggendong anak, dan aktivitas lainnya seperti saat sedang bersama-sama di tempat yang sama. Namun sudah cukup mampu mengobati rindu dibandingkan kondisi di masa lalu yang belum maju. Setidaknya kita yang jauh bisa langsung melihat secara real time kondisi orang-orang yang dicintai meskipun terpisah jarak dan waktu.

Kemajuan teknologi membuat hubungan jarak jauh bisa tidak lagi semenyedihkan dahulu. Khususnya di bulan puasa dimana hubungan jarak jauh seringkali membuat suasana melankolis. Kini, puasa jauh dari keluarga tidak lagi semerana sebelumnya. Tinggal bersabar dan tunggu waktunya saja, liburan lebaran akan pulang untuk menjumpai orang-orang yang dicinta dan dirindukan.

Sungguh sangat berjasa dan bermanfaat luar biasa ilmu dan kerja keras mereka, orang-orang yang memungkin terciptanya teknologi informasi dan komunikasi yang memudahkan hidup manusia di seluruh dunia. Semoga Tuhan memberikan balasan kebaikan yang berlipat-lipat kepada mereka.     

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun