Ariel Hosea
Ariel Hosea Mahasiswa

20 y.o | mahasiswa s1 sistem informasi ( semester 6 ) di STIKOM Yos Sudarso Purwokerto | gen z yang menulis | awalnya karena coba-coba lalu jadi hobby | lewat tulisan, saya ingin berbagi | lewat tulisan, saya ingin tumbuh

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Minta Maaf di Era Digital: Apakah Emoji dan Chat Bisa Menggantikan Tatap Muka?

1 April 2025   14:11 Diperbarui: 2 April 2025   12:27 465
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Minta Maaf di Era Digital: Apakah Emoji dan Chat Bisa Menggantikan Tatap Muka?
Maaf-maaf an saat lebaran | Sumber: SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGES via KOMPAS.com

Mereka menganggap bahwa ada nilai lebih dalam interaksi tatap muka yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Selain itu, momen Lebaran sering kali menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang.

Dalam suasana penuh kehangatan, tatap muka dan pelukan akan jauh lebih berdampak dibandingkan sekadar teks di layar ponsel.

Acara keluarga yang mempertemukan banyak anggota keluarga juga menjadi kesempatan emas untuk meminta maaf secara langsung dan mempererat kembali hubungan yang mungkin sempat merenggang selama setahun terakhir.

Kesimpulan: Lebaran, Momen Kembali ke Hati yang Tulus

Lebaran bukan hanya tentang ketupat dan baju baru, tapi juga tentang memperbaiki hubungan. Meminta maaf bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik langsung maupun digital. Namun, yang terpenting bukanlah mediumnya, melainkan ketulusan di baliknya.

Jika memungkinkan, tatap muka tetap menjadi cara terbaik untuk meminta maaf. Tapi jika jarak atau kondisi tidak memungkinkan, pastikan pesan yang dikirimkan benar-benar personal dan bukan sekadar formalitas.

Jangan hanya mengandalkan emoji atau chat singkat. Sebuah pesan yang penuh perhatian dan ketulusan tetap bisa menyentuh hati meskipun tidak disampaikan secara langsung.

Pada akhirnya, Lebaran adalah tentang kembali ke hati yang bersih. Bagaimana cara kita meminta maaf, entah dengan kata-kata, gestur, atau bahkan sekadar tatapan mata, itulah yang menentukan seberapa dalam makna dari permintaan maaf itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun