Swarna
Swarna Lainnya

🌾Mantra Terindah🌿

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Betapa Nikmatnya Ramadan Kali Ini

26 April 2020   05:56 Diperbarui: 26 April 2020   06:03 400
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Betapa Nikmatnya Ramadan Kali Ini
Pixabay

Saat ini tidak ada yang tidak bisa diceritakan. Kemarin ketika masih belum bisa memejamkan mata walau raga sepertinya ingin segera diletakkan di atas kasur empuk. 

Banyak cerita yang bisa didapat tanpa harus keluar rumah. Cukup menekan sebuah tombol pertemanan media sosial atau mesin pencarian bahkan tombol blog ini. Maka akan didapatkan berpuluh berita, cerita dan kisah,  dari kesedihan, keprihatinan, kebaperan, amarah, kebahagiaan, ketidak adilan dan sebagainya.

Semua sedang  mewartakan apa yang harus disampaikan, sehingga semua bisa mendapatkan informasi dari apa yang mereka tuliskan. 

Kita tahu covid19 masih merajai ruang berita dan wabah itu telah memberi dampak ketenangan dalam ramadan, begitu tenangnya sehingga semua merasa kehilangan. Kehilangan tradisi ketika ramadan tiba. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Walau masih ada yang melakukan solat tarawih berjamaah di surau-surau, pasti dengan berjarak shafnya.  Masih terdengar pula suara tadarus dari desa sebelah, mereka berusaha menghidupkan suasana ramadan dalam kondisi saat ini.  

Pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa ini walau dalam kewaspadaan yang sangat tinggi akan ancaman wabah covid19 yang belum terkendali.

Dalam doa yang terkirim pada langit, mengharap  atas keselamatan dan kemudahan beribadah di bulan suci. 

Ramadan karim dalam kesunyian. Mengajarkan kita untuk patuh dan tunduk atas ketetapanNya. Janganlah angkuh menghadapi keadaan saat ini.  Semua bersedih tak semeriah tahun sebelumnya, ibadah yang berlipat pahala memang tidak seharusnya ditiadakan hanya berpindah tempat. Bisa tetap dilakukan sholat berjamaah dengan anggota keluarga dan bertadarus di rumah. 

Bila masih ada yang melaksanakan di musholah atau masjid pasti dengan aturan yang ketat untuk menjaga keamanan kesehatan bersama. 

Ramadan memang harus sunyi,  harus dikerjakan dengan khusuk,  bukan diributkan dengan apa yang akan dimakan ketika sahur dan berbuka.  Ramadan harus tenang bukan dibingungkan pula dengan memenuhi tempat keramaian. Ramadan harus penuh hikmad dengan saling peduli pada sesama. 

Kita tengok di kanan kiri kita, adakah yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Kita tanya kabar teman atau kerabat  bagaimana keadaannya ketika saat ini sedang tidak bisa mengais rejeki seperti tahun lalu.  Tak ada guna harta yang menumpuk berlimpah bila masih ada di sekitar yang kekurangan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun