Riduannor
Riduannor Guru

Citizen Journalism

Selanjutnya

Tutup

TRADISI Pilihan

Mudik

27 April 2022   22:19 Diperbarui: 6 Mei 2022   19:02 461
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mudik
Poto : Jalan yang dilalui ketika melakukan mudik dari daerah transmigrasi kekota kabupaten (Dokumen pribadi)

Sudah menjadi hal wajib, ketika saya masih berada diperantauan sebagai seorang guru didaerah transmigrasi, dikota B. Sejak tahun 1997 saya bertugas disana, hal yang paling ditunggu-tunggu adalah Mudik lebaran. berbagai perjalanan yang jauh, saya lakukan, dari mengendarai motor, naik kapal laut, ataupun menggunakan mobil travel maupun bus. 

Kegiatan Mudik memang bagian dari tradisi dan budaya setiap tahun berulang, menjelang H-10,H-5, menjelang lebaran bagi masyarakat indonesia. 

Rasanya kurang afdol, kalau belum melakukan perjalanan Mudik, untuk bisa bertemu keluarga, untuk bisa sungkeman dengan orang tua, bisa bersilaturahmi dengan keluarga, sahabat, teman, dikampung halaman. Namanya, guru yang bertugas didaerah transmigrasi, terkadang saya pulang kampung membawa beras baru berkarung-karung, sebagai oleh-oleh buat orang tua. 

Walaupun dikampung juga beras bisa beli dengan mudah, karena kampung kelahiran saya adalah ibukota provinsi K. Tapi kesannya sangatlah beda, walaupunRibetnya membawa beras yang berkarung-karung bisa mencapai 50 Kg, diangkutkan ke kapal ketika menggunakan kapal sebagai alat transportasi. Menggunakan mobil travel atau bus ketika melalui jalur darat. itulah perjuangan saya ketika melakukan perjalanan mudik kekampung halaman, dengan membawa berbagai macam buah tangan, sebagai oleh-oleh dikampung halaman. 

Membawa beras berkwintal, membawa makanan ataupun minuman khas tempat bertugas yang dekat dengan malaysia. Biasa juga membawa oleh-oleh milo malaysia, kue-kue malaysia, ataupun udang kering, terasi, yang merupakan makanan ciri khas tempat saya bertugas. Perjalanan pulang kampung yang melelahkan, bisa terobati dengan bisa berkumpul dengan orang tua dan sanak keluarga dikampung halaman. 

Bisa melihat orang tua senang dibawakan oleh-oleh, walaupun itu hanya beras baru, teman dan sahabat yang bertanya-tanya mengenai tempat tugas saya ketika bersilaturahmi berlebaran kerumah teman-teman merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. 

poto : Lintasan jalan yang dilalui, ketika hujan memerlukan perjuangan yang berat saat mudik (Dokumen pribadi)
poto : Lintasan jalan yang dilalui, ketika hujan memerlukan perjuangan yang berat saat mudik (Dokumen pribadi)

Walaupun, ketika kembali ketempat tugas nantinya, kesunyian dan sepi ditempat tugas, tidak ada teman yang tau sebenarnya, susahnya mendapatkan air, yang harus berjalan berkilo-kilo untuk mendapatkan air buat memasak, tiadanya listrik siang dan malam. Dan keterbatasan lainnya.  

Sekarang kegiatan rutinitas Mudik tersebut hampir 15 tahun tidak saya rasakan lagi, karena saya sudah mutasi dan bertugas dikampung halaman. Namun suasana Mudik, perjalanan menggunakan berbagai transportasi, dan berbagai oleh-oleh yang dibawa pulang mudik tidak pernah saya lakukan lagi***

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun