charles dm
charles dm Freelancer

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

TRADISI Pilihan

Sedekah Bukan Urusan Orang Tua Semata, Yuk Terapkan Strategi Ini pada Anak Sejak Dini

27 April 2022   21:48 Diperbarui: 27 April 2022   21:55 605
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sedekah Bukan Urusan Orang Tua Semata, Yuk Terapkan Strategi Ini pada Anak Sejak Dini
Menabung menjadi pintu masuk sederhana mengajari anak berbagi: foto dokpri

 

Berbagi bukan sesuatu yang tabu. Malah agama menganjurkannya. Umat Islam, berkaca pada Alquran dalam surat Al-Talaq ayat 7, Allah SWT memerintah untuk bersedekah sesuai kesanggupan.

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. Al-Talaq: 7)

Namun demikian, bersedekah bukan perkara mudah. Tak semudah mengucapkan. Butuh pembiasaan yang lahir dari pemahaman dan bersumber dari pendidikan yang benar.

Orang tua menjadi agen penting untuk melahirkan generasi yang mudah berbagi dengan ikhlas. Melatih anak agar tak bersifat egois melainkan bersolider adalah panggilan mulia.

Lantas, bagaimana strategi orang tua untuk memupuk bibit-bibit kebaikan itu pada buah hati mereka?

Pertama, mengucapkan kata “sedekah” atau “donasi” atau bahkan “berbagi” kepada anak tidak otomatis langsung dipahami. Konsep memberi sesuatu kepada orang lain dengan tulus akan tinggal tetap sebagai konsep “mati” bila tidak dijelaskan secara sederhana.

Kata itu perlu “dihidupkan.” Mulai dengan penjelasan yang mudah ditangkap, disertai alasan yang bisa diterima akal sehat mereka. Lebih bagus lagi, kalau dengan memberi contoh atau melakukannya secara nyata. Mulailah dengan contoh terdekat seperti pakaian atau mainan.

“Adik, baju kamu kan banyak sekali. Sepertinya lemarimu sudah tidak bisa menampung lagi. Bagaimana kalau adik pilih beberapa untuk diberikan kepada teman yang lagi butuh?”

“Kakak, baju yang tidak dipakai, lama-lama bisa rusak lo. Sayang, kan?”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun