Cendekia Al Azzam - Penyuka warna biru yang demen kopi hitam tanpa gula | Mengagumimu sejak pandangan pertama | suka mengabadikan perjalanan melalui tulisan untuk dikenang di kemudian hari | Buku dan Film
Indahnya Saling Memaafkan, Hati Tenang Jiwa pun Tentram
Momen hari raya adalah kesempatan untuk saling maaf dan memaafkan. Sebagaimana esensi kembali ke fitri setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah di bulan Ramadan, umat Islam diingatkan untuk kembali ke keadaan yang suci, bersih, dan penuh ketakwaan. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi mendalam untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Salah satu hal yang paling dinanti ketika hari raya tiba adalah momen untuk saling bermaaf-maafan, terlebih dalam lingkup keluarga dan orang-orang terdekat. Tidak bisa dipungkiri, dalam berkehidupan perselisihan kerap saja terjadi, ada saja hal-hal yang menjadi alasannya. Tidak hanya di dalam keluarga, pun demikian dengan pertemanan, persahabatan, dan kehidupan sosial. Terkadang, ego kita terlalu tinggi sehingga hati sulit untuk saling memaafkan. Oleh karenanya dengan hadirnya ramadan serta puncaknya hari kemenangan (hari raya) adalah terbukanya hati untuk saling bermaaf-maafan.
Puasa ramadan selama satu bulan penuh mengajarkan kita untuk mengontrol emosi dan pengendalian diri. Orang yang sukses dalam puasanya biasanya hatinya akan mudah menerima kesalahan orang lain, dan tergerak untuk saling maaf dan memaafkan.
Itulah mengapa dalam hari raya ada istilah silaturahmi. Silaturahmi tidak hanya untuk mempererat hubungan persaudaraan dengan sesama, ia adalah bentuk ibadah yang mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Dengan bersilaturahmi kita jadi memiliki waktu lebih dekat untuk saling berbagi dan pada akhirnya saling maaf dan memaafkan.
Baca juga: Tak Ada Opor, Soto pun Jadi!
Silaturahmi Menenangkan Hati dan Menenteramkan Jiwa
Selepas shalat idul fitri kemarin, Alhamdulillah bisa ikutan halal bihalal bersama jamaah di Masjid Darul Amal, kesempatan ini aku gunakan untuk saling bermaaf-maafan (berjabat tangan). Dengan diiringi lantunan shalawat dan salam kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW) yang menggetarkan jiwa dan meluluhkan hati jamaah, momen bermaaf-maafan semakin magis. Ini adalah kesempatan yang luar biasa, menjadi ruang bagi kita yang mungkin setelahnya tidak bisa saling mengunjungi karena terbatasnya waktu. Sebab, terkadang setelah shalat ied, kita pada sibuk dengan agenda masing-masing, ada yang pulang kampung menjenguk sanak saudara, ada pula yang memang mager (malas gerak) jadi nggak keluar rumah, yang ini jangan diikuti ya.
Senang rasanya bisa berjumpa kembali dengan tetangga lama, terlebih para jamaah yang aktif di Masjid Darul Amal. Sudah hampir dua tahun ini aku pindah tempat tinggal, jadi sangat jarang untuk bersua. Terhitung sejak pindah ke tempat baru, hingga saat ini bisa dihitung sudah berapa kali berjumpa, mungkin sekitar lima hingga tujuh kali.
Ada sesuatu yang aku pun nggak tahu, hal apa yang membuatku jatuh cinta dengan masjid ini. Mungkin karena masyarakat sekitar, terlebih jamaah aktif Masjid Darul Amal yang setiap kali berjumpa memberi kesan tenang, sehingga hati pun ikut nyaman. Selain itu, ketika tarawih ramadan, masjid ini lebih diterima oleh hati dibanding masjid yang dekat dengan tempat tinggal ku saat ini. Karena di masjid yang dekat rumah kita tidak diberi waktu untuk menunaikan shalat sunnah rawatib (ba'diyah isya), padahal secara kedudukan lebih utama shalat rawatib dibandingkan shalat tarawih.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025