Membaca, menulis hasil merenung sambil ngopi itu makjleb, apalagi sambil menikmati sunrise dan sunset
[Polling] Di Antara Nastar, Khong Guan Isi Rengginang, dan Keripik Garfu, Kamu Pilih Mana?
Zaman dulu sekali sebelum masa kolonial Belanda, nenek moyang kita menyajikan hidangan lebaran sederhana dan sekenanya saja. Ketika ada tamu mereka spontan menggoreng Ubi, menggoreng pisang.
Loh, lebaran yang harusnya tinggal ramah-tamah dan salam-salaman kok baru mau goreng ubi? Tidak semua begitu. Ada juga yang menyajikan makanan yang memang sudah disiapkan seperti opak, keripik singkong dan lain sebagainya, tergantung apa komoditi yang melimpah di suatu wilayah.
Zaman itu penyiapan kue kering lebaran belum dilakukan secara khusus, belum membudaya secara luas di Indonesia. Kini, Kue kering (Cookies) telah menjadi Budaya di seantero dunia termasuk Indonesia saat menyiapkan sebuah perayaan. Entah Lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha, Natal, Imlek dan lain sebagainya).
Sejarah Kue Kering (Cookies)
Menyajikan Kue kering (cookies) yang memang disiapkan untuk sebuah perayaan berkembang lebih dulu di Persia (Sekarang disebut Iran). Menurut rangkuman Kompas, penemuan Kue kering disana dilakukan secara tidak sengaja. Ketika para tukang roti akan memanggang roti, maka dia akan mengetes kesiapan oven (oven zaman dulu yang belum secanggih sekarang) dengan memasukkan sedikit adonan roti dalam oven.
Adonan sedikit dan tipis yang dijadikan uji coba untuk mengetes kesiapan oven itulah yang menjadi cikal bakal munculnya kue kering (cookies). Zaman itu kue kering adalah versi kecil roti dan kue dalam ukuran tipis dan kering.
Kue kering berkembang dan menyebar diantara rumah-rumah para bangsawan. Saya kira sejarah Kue Ka'ak yang saya temukan di Kampung Arab Al Munawar bisa saja terjadi berawal dari perkembangan Kue Kering di Persia (Iran) lalu menyebar ke jazirah Arab. Kemudian dibawa saudagar Arab ke Palembang. Benar tidaknya, tentu saja membutuhkan penelitian yang mendalam.
Kue kering menyebar pesat di Eropa. Hal tersebut bermula saat penaklukan Andalusia (Spanyol) oleh pasukan Muslim. Ketika kemudian era berikutnya eropa menajadi pusat budaya dunia, perkembangan kue kering semakin pesat. Eropa menjadi titik penyebaran Kue Kering di Dunia. Apalagi Eropa menguasai pasar rempah-rempah dunia, maka Kue Kering pun berkembang. Kita mengenal aneka kue kering eropa yang menggunakan rempah-rempah seperti Kayu Manis (Cinnamon), Kapulaga (Cardamom), Cengkeh (Clove), Pala (Nutmeg) dan rempah lain seperti Kastangel, Jan Hagel, spekulaas dan lain sebagainya.
Masih menurut rangkuman Kompas, Kue Kering menyebar di Indonesia oleh Eropa. Ingat saja sejarah, kita mengalami beberapa kali penaklukan Eropa seperti Portugis lalu Belanda. Maka kita mengenal aneka kue kering Eropa yang kemudian berkembang menjadi aneka kue kering yang kita sajikan saat perayaan Lebaran, Natal, Sincia dan lain sebagainya.
Saya pernah menulis bahwa meski Belanda sudah jauh tapi kue kering peninggalannya masih eksis DI SINI.
Perkembangan aneka Kue Kering (Cookies) Eropa di Indonesia tentu dengan penyesuaian komoditi dan rempah yang banyak di Indonesia. Pasti asyik ya eksplorasi kuliner mereka sebab Negara kita banyak Kayu Manis, Cengkeh, Pala dan lain sebagainya. Ya rempah-rempah ini yang membuat Eropa datang ke Indonesia menyebabkan kita mengalami masa kolonialisasi.
Konon Kue Nastar berasal dari kata Ananas (Nanas) dan Tart (Pie). Ketika itu Orang Belanda kesulitan mencari blueberry. Buah yang tersedia melimpah adalah nanas. Maka mereka mengganti isi kue tersebut dengan selai Nanas dan akhirnya kita mengenal kue Nastar hingga sekarang. Nastar memang enak pake banget. Hayo siapa yang suka Nastar? Saya suka juga kok.