Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi
Ketika Open House Menimbulkan Masalah Lingkungan!
Selama open house, konsumsi energi rumah tangga juga meningkat drastis. Lampu-lampu dinyalakan lebih lama, pendingin ruangan (AC) bekerja maksimal untuk menyambut jumlah tamu yang banyak, dan peralatan listrik seperti oven, rice cooker, serta dispenser air panas bekerja tanpa henti. Semua ini meningkatkan beban konsumsi listrik yang sebagian besar masih bergantung pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.
Menurut data dari PLN, lonjakan konsumsi listrik biasanya terjadi saat hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, di mana banyak rumah tangga yang mengadakan open house. Sayangnya, sebagian besar energi listrik yang digunakan masih berasal dari pembangkit berbasis batu bara, yang merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Semakin tinggi konsumsi listrik, semakin besar pula dampak negatif terhadap lingkungan.
Dampak Terhadap Sumber Daya Air
Selain energi, air juga menjadi salah satu sumber daya yang banyak dikonsumsi selama open house. Air digunakan untuk memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, serta kebutuhan sanitasi tamu. Serig tidak digunakan dengan bijak, konsumsi air yang berlebihan ini dapat memperburuk masalah krisis air yang saat ini sudah mulai dirasakan di berbagai wilayah.
Indonesia, meskipun memiliki sumber daya air yang melimpah, tetap menghadapi ancaman krisis air di beberapa daerah akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Ketika open house dilakukan secara masif, penggunaan air meningkat signifikan juga sangat berkontribusi terhadap pemborosan sumber daya yang semakin langka ini.
Solusi Menuju Open House yang Lebih Ramah Lingkungan
Meskipun open house memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, bukan berarti kita harus menghapus tradisi ini sepenuhnya. Sebaliknya, kita bisa melakukan beberapa perubahan kecil untuk menjadikannya lebih ramah lingkungan tanpa harus mengurangi esensi kebersamaan yang ingin dicapai.
Menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali adalah salah satu langkah sederhana yang bisa mengurangi limbah plastik secara drastis. Selain itu, memasak dalam jumlah yang lebih terukur dan menyimpan makanan sisa untuk dikonsumsi kembali dapat membantu mengurangi pemborosan makanan.
Tamu yang datang juga bisa diajak untuk berbagi kendaraan atau menggunakan transportasi umum guna mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Sementara itu, pemilik rumah bisa mengatur penggunaan energi dengan lebih bijak, misalnya dengan menggunakan lampu LED hemat energi atau mengatur suhu AC agar tidak berlebihan.
Kesimpulan
Open house memang memiliki nilai sosial yang sangat besar, tetapi kita juga harus menyadari dampak lingkungannya. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim dan perlindungan lingkungan, sudah saatnya kita mulai mengadopsi kebiasaan yang lebih berkelanjutan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menggelar open house.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025