Frans Leonardi
Frans Leonardi Akuntan

Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Ketika Open House Menimbulkan Masalah Lingkungan!

2 April 2025   07:09 Diperbarui: 1 April 2025   20:58 143
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ketika Open House Menimbulkan Masalah Lingkungan!
Sejarah tradisi halalbihalal di Indonesia.(Shutterstock/Queenmoonlite Studio)

Bayangkan suasana hangat ketika open house digelar. Meja-meja penuh dengan makanan lezat, tawa keluarga dan teman-teman mengisi udara, serta suasana kebersamaan yang begitu terasa. Namun, di balik kegembiraan ini, ada dampak yang sering kali tidak disadari yaitu masalah lingkungan. Open house yang awalnya bertujuan untuk mempererat silaturahmi, tanpa disadari juga menyumbang polusi, limbah, dan pemborosan sumber daya. Masalah ini bukan hanya terjadi dalam skala kecil, tetapi jika ditinjau lebih jauh, memberikan dampak besar terhadap kerusakan lingkungan.

Sayangnya, masalah ini jarang dibahas secara mendalam. Kebanyakan orang hanya fokus pada aspek sosial dari open house tanpa mempertimbangkan efeknya terhadap lingkungan. Padahal, perubahan kecil dalam kebiasaan kita bisa membawa dampak besar bagi keberlanjutan bumi. Oleh karena itu, dalam Tulisan ini akan mengupas tuntas bagaimana open house dapat menimbulkan masalah lingkungan, mengapa hal itu terjadi, serta bagaimana kita bisa mengadopsi kebiasaan yang lebih ramah lingkungan dan tetap menjaga tujuan dan nilai sosial dari tradisi ini.

Limbah Plastik dan Sampah yang Tak Terkendali

Salah satu dampak terbesar dari open house adalah peningkatan jumlah sampah, terutama limbah plastik dan sisa makanan. Dalam banyak acara open house, penggunaan alat makan sekali pakai seperti piring styrofoam, gelas plastik, sedotan, dan sendok garpu plastik sangat umum digunakan. Kemudahan dan efisiensi yang diberikan oleh bahan-bahan ini memang menjadi opsi paling baik, tetapi akibatnya adalah meningkatnya jumlah sampah yang sulit terurai.

Styrofoam, misalnya, bisa membutuhkan ratusan tahun untuk terurai secara alami di lingkungan. Sampah plastik yang tidak tertangani dengan baik sering berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan mencemari lautan, menyebabkan bahaya bagi ekosistem laut. Perlu di ketahui menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia adalah salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, dengan konsumsi plastik sekali pakai yang terus meningkat setiap tahunnya.

Selain itu, sisa makanan juga menjadi masalah besar. Saat open house, makanan sering kali disajikan dalam jumlah berlebihan demi menjamu tamu dengan baik. Namun, tidak semua makanan yang disajikan akan habis, dan akhirnya terbuang begitu saja. Data dari Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan bahwa lebih dari 30% makanan di dunia terbuang sia-sia setiap tahunnya, dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pemborosan makanan tertinggi di Asia Tenggara.

Emisi Karbon dari Mobilitas Tamu

Bukan hanya sampah yang menjadi permasalahan, tetapi juga emisi karbon yang dihasilkan dari pergerakan tamu. Saat open house, banyak tamu yang datang menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. Hal ini menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar fosil, yang pada akhirnya menghasilkan emisi karbon yang menjadi biang masalah dari pemanasan global.

Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, mobilitas yang tinggi saat musim perayaan bisa memperburuk kemacetan lalu lintas. Semakin lama kendaraan terjebak dalam kemacetan, semakin banyak bahan bakar yang terbakar, dan semakin tinggi pula emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer. Masalah ini sering kali diabaikan karena fokus utama tetap pada aspek sosial dari open house, tetapi jika kita melihat dari sudut pandang lingkungan, dampaknya negatifnya.

Konsumsi Energi yang Berlebihan

Selama open house, konsumsi energi rumah tangga juga meningkat drastis. Lampu-lampu dinyalakan lebih lama, pendingin ruangan (AC) bekerja maksimal untuk menyambut jumlah tamu yang banyak, dan peralatan listrik seperti oven, rice cooker, serta dispenser air panas bekerja tanpa henti. Semua ini meningkatkan beban konsumsi listrik yang sebagian besar masih bergantung pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.

Menurut data dari PLN, lonjakan konsumsi listrik biasanya terjadi saat hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, di mana banyak rumah tangga yang mengadakan open house. Sayangnya, sebagian besar energi listrik yang digunakan masih berasal dari pembangkit berbasis batu bara, yang merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Semakin tinggi konsumsi listrik, semakin besar pula dampak negatif terhadap lingkungan.

Dampak Terhadap Sumber Daya Air

Selain energi, air juga menjadi salah satu sumber daya yang banyak dikonsumsi selama open house. Air digunakan untuk memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, serta kebutuhan sanitasi tamu. Serig tidak digunakan dengan bijak, konsumsi air yang berlebihan ini dapat memperburuk masalah krisis air yang saat ini sudah mulai dirasakan di berbagai wilayah.

Indonesia, meskipun memiliki sumber daya air yang melimpah, tetap menghadapi ancaman krisis air di beberapa daerah akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Ketika open house dilakukan secara masif, penggunaan air meningkat signifikan juga sangat  berkontribusi terhadap pemborosan sumber daya yang semakin langka ini.

Solusi Menuju Open House yang Lebih Ramah Lingkungan

Meskipun open house memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, bukan berarti kita harus menghapus tradisi ini sepenuhnya. Sebaliknya, kita bisa melakukan beberapa perubahan kecil untuk menjadikannya lebih ramah lingkungan tanpa harus mengurangi esensi kebersamaan yang ingin dicapai.

Menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali adalah salah satu langkah sederhana yang bisa mengurangi limbah plastik secara drastis. Selain itu, memasak dalam jumlah yang lebih terukur dan menyimpan makanan sisa untuk dikonsumsi kembali dapat membantu mengurangi pemborosan makanan.

Tamu yang datang juga bisa diajak untuk berbagi kendaraan atau menggunakan transportasi umum guna mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Sementara itu, pemilik rumah bisa mengatur penggunaan energi dengan lebih bijak, misalnya dengan menggunakan lampu LED hemat energi atau mengatur suhu AC agar tidak berlebihan.

Kesimpulan

Open house memang memiliki nilai sosial yang sangat besar, tetapi kita juga harus menyadari dampak lingkungannya. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim dan perlindungan lingkungan, sudah saatnya kita mulai mengadopsi kebiasaan yang lebih berkelanjutan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menggelar open house.

Perubahan kecil dalam cara kita mengelola acara ini bisa memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Dengan memilih alternatif yang lebih ramah lingkungan, kita tetap bisa merayakan kebersamaan tanpa harus mengorbankan masa depan bumi yang kita tinggali. Mari kita mulai dari sekarang, karena langkah kecil kita hari ini akan menentukan kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun