Frans Leonardi
Frans Leonardi Akuntan

Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Tantangan Kembali ke Rutinitas Awal Setelah Ramadan

4 April 2025   07:37 Diperbarui: 4 April 2025   07:37 176
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tantangan Kembali ke Rutinitas Awal Setelah Ramadan
Menjalani rutinitas kembali (Unsplash)

Setelah menjalani satu bulan penuh ibadah dan perubahan pola hidup selama Ramadan, tantangan terbesar yang dihadapi banyak orang adalah bagaimana kembali ke rutinitas semula. Ramadan bukan sekadar perubahan waktu makan dan tidur, tetapi juga membawa atmosfer spiritual yang mendalam, membuat banyak orang merasa lebih tenang, lebih dekat dengan Tuhan, dan lebih fokus pada kebaikan. Namun, begitu bulan suci berakhir, transisi kembali ke kehidupan sehari-hari sering kali terasa sulit dan membingungkan.

Rasa malas, pola tidur yang masih berantakan, hingga dorongan untuk tetap mempertahankan kebiasaan Ramadan di tengah tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian menjadi dilema yang harus dihadapi. Tidak sedikit yang merasakan kelelahan luar biasa setelah Idulfitri karena tubuh dan pikiran masih dalam fase adaptasi. Bagi sebagian orang, kembali ke rutinitas terasa seperti memulai dari nol, seolah harus mengatur ulang semuanya dari awal.

Tetapi, apakah kesulitan ini wajar? Mengapa kembali ke kehidupan normal setelah Ramadan bisa menjadi tantangan? Dan yang lebih penting, bagaimana cara mengatasi transisi ini agar lebih mulus tanpa harus kelelahan dan tetap menjaga kesehatan fisik maupun mental?

Mengapa Kembali ke Rutinitas Setelah Ramadan Begitu Sulit?

Perubahan kebiasaan yang drastis selama Ramadan adalah faktor utama yang membuat adaptasi setelahnya menjadi tantangan. Selama satu bulan penuh, tubuh dan pikiran terbiasa dengan ritme yang berbeda: makan hanya dua kali sehari, tidur lebih larut, bangun lebih awal, dan menjalani hari dengan semangat ibadah yang lebih tinggi. Namun, begitu Ramadan berakhir, semua kebiasaan ini harus kembali ke pola semula, dan di sinilah masalah mulai muncul.

Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan pola tidur. Selama Ramadan, kamu mungkin terbiasa bangun sebelum subuh untuk sahur, lalu tidur kembali dalam waktu yang singkat sebelum harus menjalani aktivitas harian. Setelah sebulan melakukan ini, tubuh sudah menyesuaikan diri dengan pola tersebut. Ketika Ramadan berakhir, banyak orang merasa kesulitan untuk kembali tidur lebih awal di malam hari dan bangun dengan energi penuh di pagi hari. Akibatnya, rasa kantuk dan kelelahan bisa bertahan hingga berminggu-minggu setelah Idulfitri.

Selain itu, pola makan juga mengalami perubahan signifikan. Selama Ramadan, tubuh beradaptasi dengan jadwal makan yang lebih terbatas, namun sering kali diiringi dengan konsumsi makanan tinggi gula dan lemak saat berbuka. Setelah Ramadan, kembali ke pola makan normal bukan hanya soal menyesuaikan waktu, tetapi juga harus mengatur ulang sistem metabolisme tubuh agar tidak terjadi lonjakan berat badan atau masalah pencernaan.

Dari segi mental dan emosional, banyak orang merasa ada yang "hilang" setelah Ramadan berlalu. Selama bulan suci, rutinitas ibadah yang lebih intens memberikan ketenangan dan rasa kedekatan dengan Tuhan. Namun, setelah Idulfitri, kesibukan duniawi kembali mendominasi, dan tidak sedikit yang merasa kehilangan arah atau sulit mempertahankan kebiasaan baik yang sudah terbentuk selama Ramadan.

Selain itu, faktor psikologis lain yang sering muncul adalah post-holiday blues, yaitu perasaan malas, lesu, atau bahkan sedikit depresi setelah libur panjang. Setelah menikmati waktu berkumpul dengan keluarga dan suasana penuh kebahagiaan, kembali ke realitas pekerjaan dan tugas harian bisa terasa berat.

Bagaimana Cara Mengembalikan Ritme Hidup yang Seimbang?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun