Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi
Mengapa Banyak Mitos Makanan di Indonesia
Penyebaran Informasi di Era Digital dan Mitos Makin Sulit Dihentikan
Dulu, mitos makanan hanya berkembang dari mulut ke mulut dalam lingkup keluarga atau komunitas kecil. Namun, di era digital, informasi termasuk yang salah menyebar jauh lebih cepat dan luas.
Media sosial menjadi salah satu media utama dan tempat dimana keberlanjutan mitos makanan. Banyak orang lebih mudah mempercayai informasi yang viral tanpa memverifikasinya terlebih dahulu. Jika ada seseorang yang membuat unggahan tentang bahaya suatu makanan tanpa dasar ilmiah yang kuat, kemungkinan besar informasi tersebut akan dengan cepat menyebar dan dipercaya oleh banyak orang, terutama jika dikemas dengan bahasa yang meyakinkan.
Lebih buruk lagi, algoritma media sosial sering kali memperkuat bias informasi. Ketika seseorang mencari informasi tentang suatu makanan dan menemukan artikel yang mendukung mitos tertentu, platform digital akan cenderung merekomendasikan konten serupa, sehingga ia semakin yakin dengan informasi yang mungkin keliru.
Mitos Makanan dan Kaitan dengan Kepercayaan Spiritual
Selain faktor budaya dan kurangnya literasi gizi, mitos makanan di Indonesia juga erat kaitannya dengan kepercayaan spiritual. Banyak makanan dianggap memiliki efek mistis atau bisa membawa keberuntungan dan kesialan.
Misalnya, ada kepercayaan bahwa makan sate sebelum menghadiri pernikahan bisa membuat acara tersebut batal. Beberapa orang juga percaya bahwa makan telur dengan nasi pada malam hari bisa menyebabkan kesulitan ekonomi. Kepercayaan semacam ini sering kali tidak memiliki dasar logis, tetapi tetap dipercaya karena sudah menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat.
Dalam banyak kasus, mitos makanan yang berkaitan dengan spiritualitas sulit dibantah dengan pendekatan rasional karena menyangkut aspek kepercayaan yang bersifat subjektif. Seseorang yang sudah mempercayai mitos semacam ini sejak kecil mungkin akan merasa tidak nyaman atau bahkan takut untuk melanggarnya, meskipun ia menyadari bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya.
Dampak Mitos Makanan terhadap Gaya Hidup dan Kesehatan
Kepercayaan terhadap mitos makanan tidak hanya memengaruhi cara orang memilih makanan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mereka.
Misalnya, ada mitos yang mengatakan bahwa penderita diabetes tidak boleh makan buah karena mengandung gula alami. Padahal, banyak jenis buah yang sebenarnya aman dikonsumsi oleh penderita diabetes, asalkan dalam porsi yang pas dan sesuai serta tidak berlebihan. Jika seseorang percaya pada mitos ini dan menghindari buah sepenuhnya, ia bisa kehilangan banyak nutrisi penting yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuhnya.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025