Ibnu Fauzi
Ibnu Fauzi Penulis

Penganut mantra "Man Jadda Wajada", suka Indomie, suka mendengarkan musik, dan suka jalan-jalan. Kenali aku lebih dalam di instagram @ibnufauzi07

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Ingin Bangkit dari Keterpurukan tapi Mereka Belum Sadar

20 Mei 2020   23:24 Diperbarui: 20 Mei 2020   23:26 179
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ingin Bangkit dari Keterpurukan tapi Mereka Belum Sadar
Tebar Hikmah Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap 20 Mei merupakan peringatan cikal bakal dari pendirian organisasi Boedi Oetomo pada 1908. Lahirnya Boedi Oetomo menandai terjadinya perubahan bentuk perjuangan dalam mengusir penjajah. 

Perjuangan mengusir penjajah yang semula hanya mengandalkan kekuatan fisik dan bergantung pada seorang pemimpin, diganti dengan perjuangan baru yang memanfaatkan kekuatan pemikiran. Perubahan bentuk perjuangan ini menjadikan usaha untuk mengusir penjajah terus berkesinambungan, karena tidak bergantung pada satu orang pemimpin.

Boedi Oetomo mempelopori perjuangan dengan memanfaatkan kekuatan pemikiran, karena organisasi-organisasi pergerakan yang muncul pada masa berikutnya memiliki keterkaitan dengan Boedi Oetomo. Perhimpunan Indonesia, Sarekat Islam, Indische Partij dan Muhammadiyah merupakan organisasi-organisasi yang lahir setelah menjalin interaksi dan komunikasi secara rutin dengan Boedi Oetomo. 

Meskipun memiliki ideologi yang berbeda, organisasi pada masa pergerakan memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Beragamnya organisasi pada masa pergerakan mempercepat tercapainya kemerdekaan, karena pada dasarnya organisasi-organisasi tersebut saling melengkapi.

Kini, "Bangkit tidak harus melawan penjajah, tapi kebangkitan sesungguhnya berarti memerdekan diri sendiri dari perilaku memecah belah bangsa Indonesia." Ucapan Hari Kebangkitan Nasional tersebut yang muncul di media sosial menarik perhatian saya. Kenapa? Setelah bangsa ini merdeka, maka benar seharusnya seluruh rakyat juga berjuang untuk memerdekaaan dirinya masing-masing. 

Rakyat harus berjuang memerdekakan dirinya sendiri dari berbagai jenis penjajahan, misalnya kemiskinan, kebodohan, rasa rendah dan tidak percaya diri, keterbelakangan, pengangguran, dan atau bentuk penjajahan lainnya.

Kaitannya dengan perilaku memecah belah negara kita, jangan sampai adanya wabah penyakit covid-19 ini membuat kita tidak disiplin dan patuh terhadap protokol kesehatan yang diberikan oleh pemerintah.

Seperti diketahui bersama, baru-baru ini sedang ramai tagar Indonesia Terserah dari para tenaga medis sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah yang tidak tegas serta masyarakat yang dianggap abai terhadap penyebaran virus corona. Melihat mereka yang masih belum sadar atas bahaya virus ini "seperti kuda lepas dari pingitan".

Kita juga harus merdeka dari corona. Mari berjuang melawan pandemi dan bangkit dari keterpurukan ini. Lebaran sebentar lagi, semoga Indonesia lekas pulih.

Referensi: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun