Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

TRADISI Pilihan

Hampers Lebaran, Bukan Soal Harganya tapi Ketulusan

26 April 2022   18:40 Diperbarui: 26 April 2022   18:45 883
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hampers Lebaran, Bukan Soal Harganya tapi Ketulusan
Ilustrasi hampers lebaran|dok. IStockphoto, dimuat tirto.id

Hampers lebaran bisa jadi nilainya bila dirupiahkan relatif tidak besar. Namun, karena dikirimkan oleh relasi kerja, bisa ditafsirkan sebagai gratifikasi, yang masih termasuk dalam "rumpun" korupsi.

Kembali ke kue lebaran dari keponakan saya, hanya butuh beberapa jam setelah ia minta alamat lengkap, satu kotak berukuran sedang yang berisi 4 kotak kecil kue kering sudah sampai di rumah saya.

Segera saya sampaikan pesan berisi ucapan terima kasih kepada keponakan itu. Tapi, belum ada rencana saya untuk mengirim kue balasan. 

Biasanya saya memberikan uang kepada dua orang anak dari keponakan saya itu, ketika mereka datang ke rumah saat lebaran. 

Karena sekarang mereka mudik lebaran, tentu saya harus mencari kesempatan lain untuk memberikan angpao lebaran kepada anak-anak keponakan saya itu.

Keponakan saya itu selama kuliah di Jakarta tinggal bersama saya. Tapi, tentu bukan gara-gara itu ia mengirim kue lebaran. Saya yakin, ia mengirim dengan penuh ketulusan.

Sangat berbeda dengan bingkisan lebaran yang dulu saya terima dari relasi kantor tempat saya bekerja. Secara rupiah, nilai bingkisannya lebih mahal ketimbang yang dikirim keponakan saya.

Tapi, karena bingkisan itu bersifat transaksional (kalau saya tak punya posisi, tak mungkin saya dikirimi bingkisan), menurut saya nilainya jadi berkurang. Soalnya, pasti ada pamrihnya, ada udang di balik batu.

Bagaimanapun juga, tradisi saling berkirim hampers lebaran merupakan sesuatu yang positif. Dilihat dari sisi sosial, hal itu berperan memupuk rasa kekeluargaan yang lebih erat.

Kemudian, dilihat dari sisi ekonomi, jelas ikut menggairahkan pelaku bisnis yang menyediakan hampers lebaran. Rata-rata, pelaku bisnis tersebut tergolong pengusaha kecil dan layak untuk dibantu dengan membeli produknya.

Memang, sejak KPK menggolongkan hadiah lebaran sebagai gratifikasi jika diterima oleh aparat negara (termasuk BUMN) dari relasi kerjanya, bisnis prsel lebaran cenderung mengalami penurunan penjualan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun