"Wajik" Olahan Beras Ketan, Sajian Manis Idul Fitri
Momen itu selalu terasa hangat, penuh canda tawa dan kebersamaan.
Keunikan Wajik di Setiap Daerah
Setelah dewasa, saya menyadari bahwa wajik yang dibuat nenek memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan wajik dari daerah lain.
Wajik buatan nenek berwarna pink keemasan karena menggunakan gula aren asli dan pewarna alami, dengan tekstur kenyal dan rasa manis yang tidak berlebihan.
Di daerah lain, seperti Betawi, wajik sering kali diberi pewarna hijau atau merah agar tampil lebih menarik.
Sementara di Jawa Tengah, ada wajik klethik yang lebih kenyal dan tahan lama. Bahkan di Sumatera Barat, wajik sering diberi tambahan aroma vanili atau taburan wijen di atasnya.
Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mengolah dan menyajikan wajik, tetapi satu hal yang pasti: kudapan ini selalu menghadirkan rasa manis yang khas dan kehangatan dalam setiap gigitan.
Wajik di Meja Idul Fitri
Ketika hari raya tiba, wajik selalu menjadi salah satu hidangan yang dinanti.
Tersusun rapi di piring saji, wajik buatan nenek menjadi teman yang sempurna untuk secangkir teh hangat.
Para tamu yang datang berkunjung selalu memuji rasanya yang legit dan lembut.
"Seperti dulu, rasanya tidak pernah berubah," kata salah satu paman saya yang selalu merindukan wajik buatan nenek.
Tidak hanya di keluarga kami, banyak rumah tangga di Indonesia yang menyajikan wajik saat Idul Fitri.
Selain karena rasanya yang lezat, wajik juga memiliki daya tahan yang cukup lama, sehingga bisa dibuat beberapa hari sebelum lebaran.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025