"Wajik" Olahan Beras Ketan, Sajian Manis Idul Fitri
Setiap menjelang Idul Fitri, aroma harum gula merah yang dimasak bersama santan selalu menguar dari dapur nenek.
Hari Raya Idul Fitri selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi setiap keluarga. Selain menjadi momen untuk bersilaturahmi dan memaafkan, lebaran juga identik dengan hidangan khas yang menggugah selera.
Di antara beragam kue dan makanan manis yang tersaji, ada satu kudapan tradisional yang selalu hadir di meja keluarga kami: wajik.
Kudapan berbahan dasar beras ketan ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari kenangan dan tradisi keluarga yang tak lekang oleh waktu.
Kenangan Manis dalam Sepotong Wajik
Setiap menjelang Idul Fitri, aroma harum gula merah yang dimasak bersama santan selalu menguar dari dapur nenek.
Saya masih ingat bagaimana beliau dengan sabar mengaduk adonan wajik di atas tungku kayu bakar.
"Wajik itu harus dimasak dengan penuh kesabaran, kalau tidak, rasanya bisa berbeda," ucap nenek sembari tersenyum.
Bagi nenek, membuat wajik bukan hanya tentang menciptakan makanan manis, tetapi juga tentang menyatukan keluarga.
Setiap tahunnya, kami sekeluarga berkumpul di dapur, membantu memotong daun pandan, mengaduk ketan, dan menuangkan adonan ke dalam loyang sebelum dipotong menjadi bentuk persegi.
Momen itu selalu terasa hangat, penuh canda tawa dan kebersamaan.
Keunikan Wajik di Setiap Daerah
Setelah dewasa, saya menyadari bahwa wajik yang dibuat nenek memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan wajik dari daerah lain.
Wajik buatan nenek berwarna pink keemasan karena menggunakan gula aren asli dan pewarna alami, dengan tekstur kenyal dan rasa manis yang tidak berlebihan.
Di daerah lain, seperti Betawi, wajik sering kali diberi pewarna hijau atau merah agar tampil lebih menarik.
Sementara di Jawa Tengah, ada wajik klethik yang lebih kenyal dan tahan lama. Bahkan di Sumatera Barat, wajik sering diberi tambahan aroma vanili atau taburan wijen di atasnya.
Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mengolah dan menyajikan wajik, tetapi satu hal yang pasti: kudapan ini selalu menghadirkan rasa manis yang khas dan kehangatan dalam setiap gigitan.
Wajik di Meja Idul Fitri
Ketika hari raya tiba, wajik selalu menjadi salah satu hidangan yang dinanti.
Tersusun rapi di piring saji, wajik buatan nenek menjadi teman yang sempurna untuk secangkir teh hangat.
Para tamu yang datang berkunjung selalu memuji rasanya yang legit dan lembut.
"Seperti dulu, rasanya tidak pernah berubah," kata salah satu paman saya yang selalu merindukan wajik buatan nenek.
Tidak hanya di keluarga kami, banyak rumah tangga di Indonesia yang menyajikan wajik saat Idul Fitri.
Selain karena rasanya yang lezat, wajik juga memiliki daya tahan yang cukup lama, sehingga bisa dibuat beberapa hari sebelum lebaran.
Tak jarang, wajik juga dijadikan sebagai oleh-oleh bagi kerabat yang berkunjung, sebagai simbol berbagi kebahagiaan dan keberkahan.
Sepotong Wajik, Sepotong Kenangan
Kini, nenek sudah tiada, tetapi tradisi membuat wajik tetap kami pertahankan. Setiap lebaran, ibu dan saya melanjutkan kebiasaan memasak wajik dengan resep yang diwariskan nenek.
Saat mengaduk adonan di atas tungku kayu bakar, saya merasa seperti kembali ke masa kecil, mendengar suara lembut nenek memberi petunjuk.
Meskipun kini sudah menggunakan kompor gas dan peralatan yang lebih modern, saya tetap memasak dengan menggunakan tungku kayu bakar alami dengan rasa wajik buatan keluarga kami tetap sama: manis, legit, dan penuh cinta.
Wajik bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.
Dalam setiap potongannya, tersimpan kenangan, tradisi, dan kehangatan keluarga yang terus mengalir dari generasi ke generasi.
Idul Fitri tak lengkap tanpa kehadiran wajik di meja makan, sebagaimana kebersamaan keluarga yang selalu menemani dalam setiap perayaan.
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025