Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

"Manusia Kerdil Yang Berusaha Mengapai Bintang"

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Dinding Penahan Tanah Anti Longsor Ramah Lingkungan: Solusi dari Limbah Ban Mobil Bekas.

4 April 2025   06:00 Diperbarui: 4 April 2025   01:28 346
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dinding Penahan Tanah Anti Longsor Ramah Lingkungan: Solusi dari Limbah Ban Mobil Bekas.
Dinding penahan tanah anti longsor dari limbah ban mobil  bekas. (sumber foto: google.com.au/pinterest)

Pemasangan relatif mudah dan tidak memerlukan teknologi tinggi.

3. Tahan Lama dan Fleksibel

Ban bekas memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem dan tekanan tanah.

Struktur yang fleksibel membuat dinding ini mampu menyesuaikan diri dengan pergerakan tanah, sehingga lebih tahan terhadap gempa dibandingkan dinding beton.

Implementasi di Indonesia

Beberapa daerah di Indonesia yang rawan longsor mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi ini sebagai solusi mitigasi bencana. 

Dengan dukungan pemerintah dan komunitas lokal, proyek-proyek pilot telah diuji coba di beberapa wilayah. 

Misalnya, di daerah pegunungan yang sering mengalami pergerakan tanah, dinding penahan tanah dari ban bekas menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan metode tradisional.

Selain itu, proyek ini juga dapat melibatkan masyarakat setempat dalam proses pembangunan, sehingga membuka peluang lapangan kerja baru dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah yang lebih baik.

Dinding penahan tanah dari ban bekas merupakan inovasi ramah lingkungan yang tidak hanya membantu mengatasi permasalahan limbah ban tetapi juga berkontribusi dalam pencegahan bencana longsor.

Dengan biaya yang lebih rendah, daya tahan tinggi, serta dampak lingkungan yang minimal, teknologi ini dapat menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan bagi wilayah rawan longsor di Indonesia. 

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat, sangat diperlukan untuk memperluas penerapan teknologi ini dan menciptakan lingkungan yang lebih aman serta berkelanjutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun