📖 Penulis | Jurnalis | Content Writer | Hidup untuk ditulis, menulis untuk hidup, dan apa yang saya tulis itulah diri saya!
Sesungguhnya Jika Ketulusan Bisa Diperjualbelikan, Berapa Harganya?
Ketulusan dalam Lebaran adalah genggaman tangan yang erat, air mata yang mengalir tanpa dibuat-buat, dan senyum yang tidak hanya sekadar basa-basi. Ia adalah hati yang bersedia melebur segala luka demi kedamaian yang lebih luas.
Jika ketulusan bisa dibeli, apakah ia masih bisa disebut ketulusan? Harga yang disematkan akan mencemari esensinya, sebagaimana udara yang terjebak dalam toples kehilangan kesegarannya.
Ketulusan tak lahir dari dompet yang tebal, melainkan dari keberanian untuk tidak berpura-pura. Ia hadir dalam tatapan seorang ibu yang menyelimuti anaknya dengan doa, dalam genggaman tangan sahabat yang tak melepaskan di saat dunia terasa runtuh, dalam tindakan kecil yang dilakukan tanpa seorang pun menjadi saksi.
Mungkin inilah ironi terbesar dalam kehidupan manusia: yang paling berharga justru tak bisa dibeli.
Maka, bagi mereka yang masih mencari ketulusan di etalase dunia, mungkin saatnya berhenti bertanya tentang harganya.
Sebab ketulusan bukan untuk ditukar, melainkan untuk dirasakan dan diberikan tanpa pamrih.
Barangkali, hanya dengan cara itu, kita dapat benar-benar memilikinya.
Dan di momen Lebaran ini, kita diingatkan kembali bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari apa yang kita peroleh, tetapi dari apa yang dengan tulus kita berikan. ***
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025