Jiebon Swadjiwa
Jiebon Swadjiwa Penulis

📖 Penulis | Jurnalis | Content Writer | Hidup untuk ditulis, menulis untuk hidup, dan apa yang saya tulis itulah diri saya!

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Sesungguhnya Jika Ketulusan Bisa Diperjualbelikan, Berapa Harganya?

2 April 2025   06:31 Diperbarui: 2 April 2025   06:31 154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sesungguhnya Jika Ketulusan Bisa Diperjualbelikan, Berapa Harganya?
berapa harga dari ketulusan? (freepik)

Ada satu pertanyaan yang mungkin tak pernah terjawab dengan angka pasti, Jika ketulusan bisa dibeli, berapa harganya?

Seandainya ketulusan dapat diperjualbelikan, apakah pasar akan riuh oleh orang-orang yang menawar murah atau justru menaikkan harga hingga tak tersentuh oleh manusia biasa?

Ketulusan adalah entitas yang aneh, ia tak memiliki wujud, namun terasa. Ia tak bisa diukur, namun keberadaannya menggerakkan dunia.

Bayangkan ketulusan sebagai mata air yang mengalir dari celah-celah batu; ia murni, bening, dan menyejukkan.

Namun, jika seseorang mencoba menangkapnya dalam genggaman, ia akan merembes di antara sela-sela jari, menghilang tanpa bekas.

Begitulah ketulusan, semakin dicari demi kepentingan, semakin jauh ia bersembunyi.

Di era di mana segalanya dapat diuangkan, dari senyuman hingga janji, dari empati hingga kebajikan, ketulusan tetap menjadi sesuatu yang resisten terhadap transaksi.

Orang dapat berpura-pura tulus, menciptakan kepedulian dalam bingkai komersial, menjajakan kebaikan demi citra diri.

Namun, ketulusan sejati bukanlah komoditas. Ia adalah keberanian untuk memberi tanpa hitungan, keikhlasan untuk tetap hadir tanpa tuntutan balasan.

Lebaran datang sebagai pengingat bahwa ketulusan sejati tidak membutuhkan harga.

Dalam saling memaafkan, kita tidak menghitung-hitung kesalahan, tidak menimbang apakah permintaan maaf lebih berat dari ego.

Ketulusan dalam Lebaran adalah genggaman tangan yang erat, air mata yang mengalir tanpa dibuat-buat, dan senyum yang tidak hanya sekadar basa-basi. Ia adalah hati yang bersedia melebur segala luka demi kedamaian yang lebih luas.

Jika ketulusan bisa dibeli, apakah ia masih bisa disebut ketulusan? Harga yang disematkan akan mencemari esensinya, sebagaimana udara yang terjebak dalam toples kehilangan kesegarannya.

Ketulusan tak lahir dari dompet yang tebal, melainkan dari keberanian untuk tidak berpura-pura. Ia hadir dalam tatapan seorang ibu yang menyelimuti anaknya dengan doa, dalam genggaman tangan sahabat yang tak melepaskan di saat dunia terasa runtuh, dalam tindakan kecil yang dilakukan tanpa seorang pun menjadi saksi.

Mungkin inilah ironi terbesar dalam kehidupan manusia: yang paling berharga justru tak bisa dibeli.

Maka, bagi mereka yang masih mencari ketulusan di etalase dunia, mungkin saatnya berhenti bertanya tentang harganya.

Sebab ketulusan bukan untuk ditukar, melainkan untuk dirasakan dan diberikan tanpa pamrih.

Barangkali, hanya dengan cara itu, kita dapat benar-benar memilikinya.

Dan di momen Lebaran ini, kita diingatkan kembali bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari apa yang kita peroleh, tetapi dari apa yang dengan tulus kita berikan. ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun