Jumarni
Jumarni Freelancer

Selesaikan Urusan Allah, Allah akan selesaikan segala urusanmu.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

6 Mei 2020   17:49 Diperbarui: 6 Mei 2020   17:47 294
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pulang Malu, Tak Pulang Rindu
Hasil screenshot pribadi

"Pulang malu, tidak pulang rindu"

Ungkapan itulah yang menjadi keresahan dari ilustrasi gambar diatas.

Dalam iklan tersebut menayangkan tentang keluarga kecil yang tengah berada di perantauan mengadu nasib dan menetap disana. Mengadu nasib dikota tentu tidak semudah orang-orang bayangkan. Dengan stigma 'tinggal dikota pasti banyak lapangan kerja.' Faktanya tidak semudah halu. Iklan ini memperlihatkan ada rindu yang mendalam merepresentasikan orang-orang yang tengah berada diperantauan.

Ramadhan memang sebagai moment berkumpul terbaik untuk keluarga besar. Dalam iklan ini begitu banyak pesan yang mengesankan untuk saya terlebih mirip dengan kisah pribadi. Saat melihat iklan ini seolah berkaca, hanya yang membedakan saya masih sendiri dan pada iklan itu sudah berkeluarga.

Kepahaman dan peran dari seorang istri terletak pada redaksi aktor perempuan "Ramadhan itu penuh berkah, kita jangan berhenti ikhtiar." Ia sangat menjadi supporting system dari seorang suami dalam bekerja keras dan terus bersama, bukan malah menyalahkan keadaan akan yang tengah terjadi atau dengan banyak bicara. 

Selanjutnya jika coba diimplementasikan pada kondisi pandemi saat ini adalah tradisi Batobo yang setiap pemudik disambut dengan meriah sekali.  Terlihat sangat harmonis ketika setiap pemudik pulang kampung disambut dan  dalam kondisi pandemi kali ini menjadi sangat sepi. Bahkan setelah pulang keharmonisan berkurang karena dianggap menjadi pembawa virus dan tidak ada lagi sambutan meriah.

Kemudian selanjutnya adalah bakti dan rindu sangat erat kaitannya pada iklan ini. "Rindumu oleh-oleh terbaik untuk emak, banyak orang tua yang kesepian setelah anaknya sukses." Saya kembali terflashback bagaimana ayah sering mengatakan ketika diseberang telephone bahwa dia memiliki rumah besar tetapi tidak memiliki anak-anak yang ingin menetap dirumah. Karena ia merupakan kepala keluarga, ingin memiliki rumah sendiri, dll.

Saya teringat akan dalil ini "Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [1], dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." [An-Nisaa' : 36]

Tetap berbakti dan tidak bersikap membanggakan diri dan sombong. Kalaulah kita dihadapkan dengan keadaan yang nyaman, segalanya kita dapatkan diperantauan. Mungkin sikap sombong dan  melupakan orang tua akan menghinggapi para perantauan.

Sebagai penutup, itikad baik pasti akan terbalaskan baik dengan bantuan manusia ataupun malaikat. Yakinlah banyak orang baik disekitar kita. Bahkan orang tua kita, sangat menyayangi kita.

[Referensi]

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun