Wahyu Barata
Wahyu Barata Penulis

Wahyu Barata.Lahir di Garut 21 Oktober 1973. Menulis puisi, cerita pendek,dan artikel. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Sari Kata, majalah Aksara , Media Bersama, Kompas, Harian On Line Kabar Indonesia, beberapa antologi bersama, dan lain-lain.Kini bekerja sebagai marketing perbankan tinggal di Bandung.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Mudik Bersepeda

28 Mei 2019   22:19 Diperbarui: 28 Mei 2019   22:31 34
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mudik Bersepeda
Foto Siap-siap melanjutkan perjalanan mudik setelah beberapa saat melepas lelah. Dokumen Pribadi.

Bagi yang gemar bersepeda jarak jauh mudik sambil bersepeda akan menjadi pengalaman sangat mengasyikkan. Meski sedang berpuasa tetap akan menyenangkan. Rasa lapar, haus, dan cuaca panas, akan terlupakan saat kita sedang melaju dengan sepeda di jalan raya.

Salah satu keuntungan mudik bersepeda adalah anti macet, karena kita bisa lewat tepi jalan atau jalan pintas di tengah padatnya lalu lintas. Juga tak perlu takut kehabisan tiket kereta, bus, atau pesawat.

Dengan bersepeda kita akan lebih peka terhadap tempat-tempat di sepanjang  rute perjalanan yang selama ini kurang dikenal publik. Tetapi tidak mudah juga,  tanpa persiapan fisik, mental, dan rencana matang, kita akan menemui kendala seperti dehidrasi; jalan yang bervariasi dengan liku, tanjakan, turunan, silih berganti, meskipun permukaan jalan mulus; tempaan garang kendaraan bermotor, terutama truk,  bus, elf.

Agar perjalanan lancar, kita harus memperhitungkan dengan baik rute yang akan dilalui, target pencapaian jarak tempuh, packing barang bawaan, pengaturan waktu kayuh dan kecepatan. Contoh , berangkat selepas shalat Subuh dengan waktu kurang lebih 2 jam atau jarak tempuh 30 kilometer.

Perjalanan dari Bandung ke Garut, pemandangan di sepanjang sisi jalan dihiasi suasana hijau, di kiri dan kanan. Meskipun harus beberapa kali mengalah dan berhenti sejenak ke tepi jalan menghindari laju cepat kendaraan-kendaraan yang melintas.

Untuk istirahat, di sepanjang jalur mudik banyak kita jumpai pos-pos yang menyediakan tempat istirahat dan berbagai layanan gratis.  Atau bisa juga singgah sejenak di SPBU, Cirkle K,  Indomaret, Alfamart. Istirahat yang berkualitas di setiap tempat kita singgah,  kalau berkenan ada juga jasa pijat gratis yang disediakan pos-pos sponsor untuk merelaksasi otot. Setelah  shalat Ashar..., hingga tiba waktu Maghrib berbukalah  dengan makanan dan minuman kaya nutrisi.

Kita dapat melanjutkan perjalanan menempuh jarak  40 kilometer. Ada baiknya jika perjalanan mudik dilakukan minimal dengan seorang teman yang searah dan setujuan dengan kita.Di perjalanan kita harus mewaspadai padatnya arus lalu lintas dan hembus angin. Kita sebaiknya berkendara dengan aman, lancar, dan selamat. Gunakan safety gear standard seperti helm, sarung tangan, kaca mata, jaket penahan dingin, sepatu yang sesuai untuk bersepeda.

Pada malam hari, gunakan lampu kerlal-kerlip cahaya putih di bagian depan dan cahaya merah di bagian belakang sepeda. Kalau mungkin kenakan rompi yang bisa merefleksikan cahaya agar kita mudah terlihat oleh para pengendara.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun