Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Novelis

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Segelas Milkshake untuk Belahan Jiwa

1 Juni 2018   03:32 Diperbarui: 1 Juni 2018   03:43 692
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Waktu berbuka puasa seharusnya menyenangkan. Tapi Dinda tak menikmatinya. Sejak tadi ia belum menyentuh steak, minuman, dan takjil yang disiapkan asisten rumah tangganya. Ia resah, menanti kedatangan seseorang.

Menunggu itu belajar sabar. Kini Dinda tengah melakukannya. Blogger, pianis, model, dan novelis cantik itu bergerak resah di kursinya. Pasrah, hanya itu yang bisa terpikir di tengah penantian.

Deru mobil disusul bunyi bel pintu menyentakkan atensinya. Sejurus kemudian ia berlari ke pintu utama dan membukakannya. Apa yang ia nantikan telah datang.

Plak!

Benarkah ini sambutan hangat? Maniskah menyambut seorang pria dengan tamparan? Nyatanya, Dinda melayangkan tangan untuk menampar Calvin begitu mereka berhadapan. Dinda tak melihat paperbag berisi segelas milkshake favoritnya di tangan kanan Calvin.

"Tampar saja aku...aku pantas mendapatkannya." Calvin maju dua langkah, menyodorkan dirinya untuk ditampar.

Ini kegilaan. Calvin Wan, blogger dan pengusaha retail super tampan, banyak disukai wanita, merelakan dirinya ditampar dan disakiti?

Tangan Dinda menggantung lemas di sisi tubuhnya. Hatinya kesal, kecewa, sedih, bercampur marah.

"Calvin Wan, aku kecewa padamu! Who do you think you are?! Kamu tidak menceritakannya padaku! Kamu..."

"Sebelum lanjut marah-marahnya, minumlah ini. Berbukalah, aku tahu kamu belum membatalkan puasamu sejak tadi." Calvin menyela lembut. Mengulurkan gelas berisi milkshake.

Dinda terperangah. Calvin memang pribadi yang istimewa. Ia rela datang ke rumah Dinda hanya untuk ditampar, dimarahi, dan masih sempat memberikan minuman kesukaannya. Mau tak mau ia meminum milkshake itu. Kelezatannya mengalir pelan, dari lidah turun ke hati. Sejenak memadamkan bara kekecewaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun