Mahar Prastowo
Mahar Prastowo Full Time Blogger

https://www.maharprastowo.com | https://wa.me/6285773537734

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Kepala Babi di Meja Redaksi: Sebuah Simbol, Sebuah Cerita

23 Maret 2025   06:03 Diperbarui: 23 Maret 2025   06:03 419
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kepala Babi di Meja Redaksi: Sebuah Simbol, Sebuah Cerita
Ilustrasi paket untuk Cica, jurnalis TEMPO (ilustrasi.ai)


Sore hari, di pos sekuriti  redaksi TEMPO, sebuah kardus cokelat tergeletak, sudah menginap semalam. Kardus itu tampak biasa saja, namun ketika yang dikirimi, Cica, membawa ke mejanya dan dibuka, seisi kantor tercengang: di dalamnya terdapat kepala babi dengan kuping terpotong. Darahnya mulai mengering, meninggalkan aroma yang menyengat. Sebuah pesan yang tak memerlukan banyak kata untuk dimengerti.

Namun, di balik seramnya simbol ini, kepala babi adalah representasi yang lebih kompleks. Ia membawa beban sejarah panjang, meresap dalam mitos, agama, dan budaya.

Babi dalam Mitologi dan Simbolisme

Di banyak tradisi, babi memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah simbol kekotoran, kerakusan, atau keserakahan. Di sisi lain, babi juga melambangkan kemakmuran dan kelimpahan.

Dalam mitologi Cina, babi adalah salah satu dari dua belas shio. Shio babi melambangkan kejujuran, ketulusan, dan keberuntungan. Di dunia Barat, khususnya dalam cerita rakyat Eropa, babi sering dikaitkan dengan kemewahan dan perayaan. Daging babi adalah suguhan istimewa saat musim panen berakhir.

Sebaliknya, dalam tradisi Yahudi dan Islam, babi dianggap najis. Dalam Alkitab Ibrani, babi dilarang sebagai makanan karena dianggap tidak memiliki kekudusan. Begitu pula dalam Al-Qur'an, babi disebut sebagai hewan yang diharamkan.

Namun, ada juga simbolisme perlawanan dalam penggunaan kepala babi. Dalam novel "Lord of the Flies" karya William Golding, kepala babi yang ditancapkan menjadi simbol kekacauan dan kehancuran moral. Kepala itu adalah perwujudan dari "The Beast" atau kebiadaban yang muncul ketika manusia kehilangan kendali atas naluri liar mereka.

Konteks Sosial: Ancaman di Balik Simbol

Pengiriman kepala babi ke jurnalis kantor media seperti TEMPO bukan sekadar bentuk ancaman fisik. Ini adalah simbol yang dimaksudkan untuk mengintimidasi. Kepala babi berbicara tentang ketakutan, penghinaan, bahkan kekuasaan yang tengah diuji. Di dunia jurnalistik, ancaman seperti ini sering kali menjadi peringatan bagi mereka yang menyuarakan kebenaran.

Sejarah mencatat berbagai bentuk ancaman simbolik kepada pers. Di Amerika Latin, jurnalis kerap menerima amplop berisi peluru sebagai ancaman dari kartel narkoba. Di Eropa Timur, koran oposisi sering kali mendapat simbol kematian seperti bangkai binatang.

Namun, dalam konteks Indonesia, kepala babi menyentuh sensitivitas agama dan budaya. Di negara dengan mayoritas Muslim, simbol ini ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap keyakinan. Ini adalah bentuk psikologis dari kekerasan, menargetkan aspek paling mendasar dari identitas seseorang.

Filosofi dan Paradoks Babi

Menariknya, dalam filsafat, babi juga memiliki peran penting. Filsuf Prancis Michel Serres pernah membahas bagaimana babi menjadi simbol hubungan manusia dengan kekotoran dan kemurnian. Babi hidup di lumpur, memakan sisa-sisa, namun tetap menjadi sumber pangan yang berharga bagi sebagian masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun