Memaafkan Itu Mudah, Yang Susah Itu Menagih
Saya sudah memaafkan.
Serius.
Saya juga sudah mengucapkannya dengan tulus, "Maaf lahir batin."
Tapi hati ini tetap saja nyesek. Ada yang masih mengganjal.
Tepat pada hari Lebaran, saya melihat dia, dia, dia. Ya, mereka yang sudah sekian lama berpura-pura lupa kalau punya utang. Yang lelaki, berjalan tegap, gagah, dengan baju koko baru, celana panjang yang terlihat mahal, dan peci putih yang bersih. Wangi parfumnya menusuk hidung saya, seakan ingin mengumumkan bahwa hari itu dia adalah manusia paling bahagia.
Anaknya juga tampil rapi. Sandalnya lebih baru dari sandal saya. Istrinya mengenakan gamis cantik, berkilauan diterpa sinar matahari. Lengkap dengan tas branded yang mungkin harganya setara dengan utangnya kepada saya.
Dan saya? Hanya bisa tersenyum kecut.
Padahal, sudah beberapa kali saya mengingatkannya. Dengan cara halus, tentu. Kadang lewat pesan singkat, kadang dengan basa-basi saat bertemu di mana saja. "Mas, kapan kira-kira bisa menyelesaikan yang kemarin?" Biasanya dia akan menjawab dengan seribu satu alasan, yang lama-lama sudah saya hafal. "Aduh, masih ada keperluan ini-itu, nanti ya... Insya Allah segera. Doakan saja rezeki lancar."
Tapi rezekinya sudah lebih dari lancar. Saya melihatnya sendiri dalam setahun belakangan melalui status WA dan sosmed-nya. Lebarannya juga megah. Foto-fotonya berseliweran di media sosial. Ada foto meja makan yang penuh dengan aneka makanan lezat, ada foto silaturahmi ke rumah keluarga, bahkan ada video pendek tentang perjalanan mudiknya ke kampung halaman dengan mobil terbaru. Saya tahu betul, itu mobil baru. Saya lihat sendiri stiker pajaknya.
Tentu saja saya tidak bisa marah. Saya juga tidak ingin dicap sebagai orang yang perhitungan di hari baik bulan baik. Tapi, ya, perasaan ini tidak bisa bohong. Kalau memang tidak bisa bayar lunas, setidaknya ada niat baik. Jangan sampai saya harus jadi orang yang setiap tahunnya mengingat jumlah utang orang lain, alih-alih menikmati ketupat dan opor ayam.
Ada banyak orang yang mengalami hal seperti ini. Kita disuruh memaafkan, dan kita pun mencoba memaafkan. Tapi bagaimana dengan hak kita? Haruskah kita diam saja melihat orang yang berutang kepada kita justru merayakan hari raya dengan kemewahan, sementara kita, yang menolongnya, masih menghitung sisa uang di dompet?
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025