Memaafkan Itu Mudah, Yang Susah Itu Menagih
Saya tahu, tidak semua orang yang berutang memang sengaja tidak mau membayar. Ada yang benar-benar kesulitan, ada yang memang lupa, dan ada juga yang... ya, pura-pura lupa. Tapi seharusnya ada kesadaran untuk setidaknya menghormati orang yang sudah membantu. Jangan sampai, kita justru terlihat seperti pengemis di mata orang yang justru punya tanggungan kepada kita.
Akhirnya, saya hanya bisa menarik napas panjang. Mungkin ini ujian kesabaran. Mungkin ini cara Tuhan mengajari saya ikhlas yang sebenarnya. Tapi tetap saja, kalau saya bertemu dia lagi dalam beberapa minggu ke depan, saya tidak akan segan-segan bertanya lagi: "Mas, pak, bu, kira-kira kapan bisa menyelesaikan yang kemarin?" Dengan senyum yang sama. Tapi kali ini, dengan tatapan yang lebih tajam.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini: jangan lagi melayani orang yang mau berutang. Orang yang berutang berarti minus, belum nol rupiah. Jika kita memberikan utang tanpa jaminan, maka kita harus mempersiapkan keikhlasan hati untuk kehilangan. Mereka yang berutang ke teman, itu karena mereka tidak lagi dipercaya bank. Mungkin karena tidak punya jaminan, atau lebih buruk lagi---karena sudah masuk daftar hitam bank. Mereka tak lagi bankable. Maka, jika bank saja tidak percaya, kenapa kita harus percaya?"
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025