Mahar Prastowo
Mahar Prastowo Full Time Blogger

https://www.maharprastowo.com | https://wa.me/6285773537734

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Memaafkan Itu Mudah, Yang Susah Itu Menagih

2 April 2025   11:16 Diperbarui: 2 April 2025   11:16 142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Memaafkan Itu Mudah, Yang Susah Itu Menagih
"Jika bank saja tidak percaya, kenapa kita harus percaya?"

Saya sudah memaafkan. 

Serius. 

Saya juga sudah mengucapkannya dengan tulus, "Maaf lahir batin." 

Tapi hati ini tetap saja nyesek. Ada yang masih mengganjal.

Tepat pada hari Lebaran, saya melihat dia, dia, dia. Ya, mereka yang sudah sekian lama berpura-pura lupa kalau punya utang. Yang lelaki, berjalan tegap, gagah, dengan baju koko baru, celana panjang yang terlihat mahal, dan peci putih yang bersih. Wangi parfumnya menusuk hidung saya, seakan ingin mengumumkan bahwa hari itu dia adalah manusia paling bahagia.

Anaknya juga tampil rapi. Sandalnya lebih baru dari sandal saya. Istrinya mengenakan gamis cantik, berkilauan diterpa sinar matahari. Lengkap dengan tas branded yang mungkin harganya setara dengan utangnya kepada saya.

Dan saya? Hanya bisa tersenyum kecut.

Padahal, sudah beberapa kali saya mengingatkannya. Dengan cara halus, tentu. Kadang lewat pesan singkat, kadang dengan basa-basi saat bertemu di mana saja. "Mas, kapan kira-kira bisa menyelesaikan yang kemarin?" Biasanya dia akan menjawab dengan seribu satu alasan, yang lama-lama sudah saya hafal. "Aduh, masih ada keperluan ini-itu, nanti ya... Insya Allah segera. Doakan saja rezeki lancar."

Tapi rezekinya sudah lebih dari lancar. Saya melihatnya sendiri dalam setahun belakangan melalui status WA dan sosmed-nya. Lebarannya juga megah. Foto-fotonya berseliweran di media sosial. Ada foto meja makan yang penuh dengan aneka makanan lezat, ada foto silaturahmi ke rumah keluarga, bahkan ada video pendek tentang perjalanan mudiknya ke kampung halaman dengan mobil terbaru. Saya tahu betul, itu mobil baru. Saya lihat sendiri stiker pajaknya.

Tentu saja saya tidak bisa marah. Saya juga tidak ingin dicap sebagai orang yang perhitungan di hari baik bulan baik. Tapi, ya, perasaan ini tidak bisa bohong. Kalau memang tidak bisa bayar lunas, setidaknya ada niat baik. Jangan sampai saya harus jadi orang yang setiap tahunnya mengingat jumlah utang orang lain, alih-alih menikmati ketupat dan opor ayam.

Ada banyak orang yang mengalami hal seperti ini. Kita disuruh memaafkan, dan kita pun mencoba memaafkan. Tapi bagaimana dengan hak kita? Haruskah kita diam saja melihat orang yang berutang kepada kita justru merayakan hari raya dengan kemewahan, sementara kita, yang menolongnya, masih menghitung sisa uang di dompet?

Saya tahu, tidak semua orang yang berutang memang sengaja tidak mau membayar. Ada yang benar-benar kesulitan, ada yang memang lupa, dan ada juga yang... ya, pura-pura lupa. Tapi seharusnya ada kesadaran untuk setidaknya menghormati orang yang sudah membantu. Jangan sampai, kita justru terlihat seperti pengemis di mata orang yang justru punya tanggungan kepada kita.

Akhirnya, saya hanya bisa menarik napas panjang. Mungkin ini ujian kesabaran. Mungkin ini cara Tuhan mengajari saya ikhlas yang sebenarnya. Tapi tetap saja, kalau saya bertemu dia lagi dalam beberapa minggu ke depan, saya tidak akan segan-segan bertanya lagi: "Mas, pak, bu, kira-kira kapan bisa menyelesaikan yang kemarin?" Dengan senyum yang sama. Tapi kali ini, dengan tatapan yang lebih tajam.


Pelajaran yang Bisa Dipetik

Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini: jangan lagi melayani orang yang mau berutang. Orang yang berutang berarti minus, belum nol rupiah. Jika kita memberikan utang tanpa jaminan, maka kita harus mempersiapkan keikhlasan hati untuk kehilangan. Mereka yang berutang ke teman, itu karena mereka tidak lagi dipercaya bank. Mungkin karena tidak punya jaminan, atau lebih buruk lagi---karena sudah masuk daftar hitam bank. Mereka tak lagi bankable. Maka, jika bank saja tidak percaya, kenapa kita harus percaya?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun