Meliana Aryuni
Meliana Aryuni Lainnya

Mampir ke blog saya melianaaryuni.web.id atau https://melianaaryuni.wordpress.com dengan label 'Pribadi untuk Semua' 🤗

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Bijak Membuka Obrolan, Kunci Sukses Memahami Makna Lebaran

29 April 2022   21:23 Diperbarui: 29 April 2022   21:28 575
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bijak Membuka Obrolan, Kunci Sukses Memahami Makna Lebaran
(Pexels.com/@Rodnae)

Alhamdulillah, sebentar lagi lebaran! Enggak berasa, ya? Hanya tinggal hitungan hari ramadan akan pergi meninggalkan kita. Semoga saja kita bisa bertemu lagi dengan ramadan di tahun-tahun berikutnya, ya.Bicara tentang lebaran, pasti banyak yang akan dibicarakan. Mungkin banyak yang akan makanan khas lebaran, baju lebaran, THR lebaran, atau halal bihalal selama lebaran. Eits, untuk yang terakhir ini, sudah pada tahu 'kan kalau ada peraturan baru mengenai hal ini?

Halal bihalal dan pembatasan kegiatan di dalamnya pun dilakukan saat lebaran kali ini.  Pembatasan kegiatan ini berbeda-beda setiap kabupaten/kota  untuk kabupaten/kota yang berada pada PPKM 1 pembatasan kegiatan halal bi halal mencapai 100%, PPKM level 2, yiatu 75%, dan PPKM level 3, tidak lebih dari 50%. Waduh, kok bisa jadi begini sih? Ya, bisa dong!

Mengenai pembatasan kegiatan halal bi halal ini pun menuai berbagai komentar. Namun, secara umum banyak kontra dengan peraturan tersebut. Coba deh baca instagramnya @lambeturah_official. Netizen berpendapat yang seharusnya dibatasi saat lebaran itu adalah obrolannya.

Nah, mengenai obrolan, pastinya karena lebaran adalah salah satu ajang silaturrahmi, maka pasti banyak yang akan diobrolkan. Seperti, eh, udah nikah belum? Kamu kerja di mana? Anaknya berapa? Aktivitasnya apa aja nih? Juga berbagai obrolan lain yang kadang bikin nyesek aja.

Ngobrol tentang sesuatu sih boleh banget, ya? Namun, materi obrolan yang menyinggung, mengabaikan perasaan komunikan membuat suasana menjadi 'panas' dan tidak menyenangkan. Yang niat awal mengobrol adalah untuk pengakraban berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan dan mengecewakan.

Oleh karena itu, kita pun harus memikirkan beberapa hal sebelum membuka obrolan pada saat lebaran. Hal pertama, berpikir sebelum berucap. Ini yang paling penting. Ketahui dulu seberapa penting obrolanmu itu. Berpikirlah kamu di posisi orang yang akan diajak bicara, seperti itu pula kamu akan menyikapi bila orang lain mengobrol denganmu. Lalu, rasakan jika obrolan/pertanyaan itu berlaku untukmu

Kedua, kenali orang yang akan kamu ajak mengobrol. Kamu bisa mengenali mereka dari sifatnya. Jangan mengobrol tentang sesuatu yang melukai hatinya jika kamu tahu dia bersifat melankolis.

Ketiga, mengobrol secukupnya. Obrolkan yang penting saja. Kamu bisa menjadi pendengar yang baik pada saat itu. Tak masalah bagimu, 'kan?

Keempat, hindari obrolan yang menimbulkan banyak perdebatan. Tak ada gunanya mendebat pendapat orang lain dan tak menjadi hebat pula orang suka berdebat. Bahkan  debat kusir akan menghancurkan makna lebaran yang sesungguhnya.

Kelima, menginggal bahwa setiap obrolan akan diperranggubgjawabkan. Ada konsekuensi yang harus ditanggung di dunia-akhirat. Untuk itu berhati-hati adalah sikap yang tepat dilakukan.

Bijak dalam mengobrol dan memilih materi obrolan seharusnya dilakukan setiap orang. Tidak ada perasaan tersakiti, bersalah, dan kecewa pada saat berlebaran menjadi satu hal yang harus ditanamkan di dalam hati. Lebaran yang dimaknai sebagai perasaan atas kemenangan umat muslim dalam melaksanakan perintah Allah swt. harus dilakukan dengan sebaiknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun