Merza Gamal
Merza Gamal Konsultan

Penulis Buku: - "Spiritual Great Leader" - "Merancang Change Management and Cultural Transformation" - "Penguatan Share Value and Corporate Culture" - "Corporate Culture - Master Key of Competitive Advantage" - "Aktivitas Ekonomi Syariah" - "Model Dinamika Sosial Ekonomi Islam" Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Kerugian Melewatkan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

2 April 2025   08:32 Diperbarui: 3 April 2025   15:18 813
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kerugian Melewatkan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal
Puasa. (Unsplash via Kompas.com)

Godaan Silaturahim dan Jamuan Makan

Salah satu alasan utama banyak orang melewatkan puasa Syawal adalah banyaknya undangan perayaan, halal bihalal, serta berbagai acara keluarga dan komunitas. Mereka khawatir akan dianggap tidak menghormati tuan rumah jika menolak hidangan yang disajikan. Namun, Rasulullah SAW telah memberikan solusi bijak dalam hal ini. 

Beliau bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian diundang, hadirilah! Apabila ia berpuasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!" (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara ibadah dan hubungan sosial.

Bagi mereka yang khawatir dengan undangan, ada cara mudah untuk tetap menjalankan puasa Syawal tanpa harus mengorbankan silaturahim. Salah satunya adalah menjadwalkan puasa pada hari-hari di mana tidak ada acara besar atau mengakhirkan puasa hingga setelah puncak perayaan Idul Fitri berlalu. 

Mengatur strategi dengan baik akan memungkinkan kita untuk tetap menjalankan sunnah tanpa harus mengorbankan adab sosial.

Melewatkan Kesempatan Menyempurnakan Ramadan

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula dalam ibadah. Selama Ramadan, mungkin ada hari-hari di mana kita kurang fokus, kurang khusyuk, atau bahkan lalai dalam menjaga ucapan dan perbuatan. 

Puasa Syawal adalah kesempatan untuk menutupi kekurangan itu. Ibarat seorang pelukis yang masih memiliki beberapa bagian kosong di atas kanvasnya, puasa Syawal membantu kita melengkapi lukisan Ramadan agar lebih indah dan sempurna.

Selain itu, puasa ini juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Setelah diberi kesempatan menjalani Ramadan dengan penuh berkah, bukankah wajar jika kita menunjukkan rasa syukur dengan terus beribadah kepada-Nya? 

Sayangnya, mereka yang tidak menjalankan puasa Syawal kehilangan kesempatan ini. Mereka seperti seseorang yang telah diberi hadiah besar tetapi memilih untuk tidak membukanya.

Kehilangan Momentum dan Kesempatan Berharga

Banyak orang merasakan perubahan besar dalam diri mereka selama Ramadan---lebih sabar, lebih mudah mengendalikan diri, dan lebih dekat dengan Allah SWT. Namun, seiring berjalannya waktu, tanpa adanya upaya untuk mempertahankan perubahan ini, kebiasaan lama kembali menguasai. Puasa Syawal adalah rem yang menahan kita agar tidak kembali pada rutinitas lama yang kurang produktif secara spiritual.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun