Penulis Buku: - "Spiritual Great Leader" - "Merancang Change Management and Cultural Transformation" - "Penguatan Share Value and Corporate Culture" - "Corporate Culture - Master Key of Competitive Advantage" - "Aktivitas Ekonomi Syariah" - "Model Dinamika Sosial Ekonomi Islam" Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.
Kerugian Melewatkan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal
Saat Ramadan berlalu, suasana penuh berkah dan semangat ibadah masih terasa di hati kaum Muslim. Hari kemenangan Idul Fitri menjadi momen penuh kebahagiaan, diiringi dengan silaturahim, jamuan makan, dan kebersamaan dengan keluarga serta sahabat.
Namun, di balik euforia ini, ada sebuah kesempatan emas yang kerap terlewatkan---puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Banyak yang tidak menyadari bahwa melewatkan ibadah ini berarti kehilangan peluang luar biasa yang telah Rasulullah SAW anjurkan.
Kesempatan yang Setara dengan Puasa Setahun
Bayangkan seseorang yang menjalankan puasa seumur hidupnya. Betapa besar pahala dan keberkahannya! Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa mereka yang berpuasa penuh di bulan Ramadan dan melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal akan memperoleh pahala seperti berpuasa selama setahun penuh.
Beliau bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti telah berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim).
Ini adalah perhitungan ilahi---sebuah kemurahan dari Allah SWT yang memberikan ganjaran besar hanya dengan sedikit tambahan usaha. Namun, sayangnya, banyak orang melewatkan kesempatan berharga ini hanya karena terlena dalam perayaan dan kesibukan duniawi.
Ramadan sebagai Training Akbar, Syawal sebagai Continuous Improvement
Dalam dunia manajemen dan pengembangan diri, ada konsep continuous improvement, yaitu perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas suatu sistem. Ramadan adalah training akbar bagi setiap Muslim---sebuah program intensif yang melatih kedisiplinan, pengendalian diri, serta peningkatan spiritual.
Namun, sebagaimana dalam dunia profesional, pelatihan tanpa praktik lanjutan akan membuat ilmu cepat hilang. Begitu pula dalam ibadah, tanpa kesinambungan, semangat Ramadan bisa cepat luntur.
Syawal hadir sebagai fase continuous improvement, di mana kita diberikan kesempatan untuk menerapkan dan mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibentuk selama Ramadan. Puasa Syawal berfungsi sebagai jembatan agar nilai-nilai Ramadan tidak menguap begitu saja, tetapi terus menjadi bagian dari kehidupan seorang mukmin sejati sepanjang masa.
Jika seorang atlet berhenti berlatih setelah kompetisi besar, kebugarannya akan menurun. Begitu pula dengan spiritualitas kita---tanpa upaya untuk mempertahankannya, kita akan kembali ke kebiasaan lama yang kurang produktif secara ruhani.
Godaan Silaturahim dan Jamuan Makan
Salah satu alasan utama banyak orang melewatkan puasa Syawal adalah banyaknya undangan perayaan, halal bihalal, serta berbagai acara keluarga dan komunitas. Mereka khawatir akan dianggap tidak menghormati tuan rumah jika menolak hidangan yang disajikan. Namun, Rasulullah SAW telah memberikan solusi bijak dalam hal ini.
Beliau bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian diundang, hadirilah! Apabila ia berpuasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!" (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara ibadah dan hubungan sosial.
Bagi mereka yang khawatir dengan undangan, ada cara mudah untuk tetap menjalankan puasa Syawal tanpa harus mengorbankan silaturahim. Salah satunya adalah menjadwalkan puasa pada hari-hari di mana tidak ada acara besar atau mengakhirkan puasa hingga setelah puncak perayaan Idul Fitri berlalu.
Mengatur strategi dengan baik akan memungkinkan kita untuk tetap menjalankan sunnah tanpa harus mengorbankan adab sosial.
Melewatkan Kesempatan Menyempurnakan Ramadan
Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula dalam ibadah. Selama Ramadan, mungkin ada hari-hari di mana kita kurang fokus, kurang khusyuk, atau bahkan lalai dalam menjaga ucapan dan perbuatan.
Puasa Syawal adalah kesempatan untuk menutupi kekurangan itu. Ibarat seorang pelukis yang masih memiliki beberapa bagian kosong di atas kanvasnya, puasa Syawal membantu kita melengkapi lukisan Ramadan agar lebih indah dan sempurna.
Selain itu, puasa ini juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Setelah diberi kesempatan menjalani Ramadan dengan penuh berkah, bukankah wajar jika kita menunjukkan rasa syukur dengan terus beribadah kepada-Nya?
Sayangnya, mereka yang tidak menjalankan puasa Syawal kehilangan kesempatan ini. Mereka seperti seseorang yang telah diberi hadiah besar tetapi memilih untuk tidak membukanya.
Kehilangan Momentum dan Kesempatan Berharga
Banyak orang merasakan perubahan besar dalam diri mereka selama Ramadan---lebih sabar, lebih mudah mengendalikan diri, dan lebih dekat dengan Allah SWT. Namun, seiring berjalannya waktu, tanpa adanya upaya untuk mempertahankan perubahan ini, kebiasaan lama kembali menguasai. Puasa Syawal adalah rem yang menahan kita agar tidak kembali pada rutinitas lama yang kurang produktif secara spiritual.
Melewatkan puasa Syawal berarti kehilangan kesempatan untuk mempertahankan momentum ibadah.
Mereka yang tidak menjalankannya sering kali merasa lebih cepat kehilangan semangat ibadah, dan sebelum mereka menyadarinya, kebiasaan buruk sebelum Ramadan mulai muncul kembali.
Kesimpulan: Jangan Biarkan Kesempatan Berlalu Begitu Saja
Puasa enam hari di bulan Syawal adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan hanya menambah enam hari lagi setelah Ramadan, kita bisa mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun, melengkapi kekurangan ibadah, dan menjaga semangat spiritual yang telah kita bangun.
Jangan sampai kesibukan duniawi atau rasa enggan membuat kita kehilangan kesempatan emas ini.
Syawal adalah bulan peningkatan, bulan continuous improvement. Jangan biarkan semangat ibadah kita memudar hanya karena euforia perayaan.
Mari manfaatkan bulan ini sebagai jembatan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga setiap hari dalam hidup kita tetap dipenuhi dengan keberkahan dan rahmat-Nya.
Penulis: Merza Gamal (Pensiunan Gaul Banyak Acara)
Bercerita +SELENGKAPNYA
Ketemu di Ramadan

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.
Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025