Noto Susanto
Noto Susanto Dosen

Saya Sebagai Dosen, Entrepreneurship, Trainer, Colsultant Security dan Penulis.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Pulang Malu Nggak Pulang Rindu "Mudik Lebaran" - Chapter 16

4 April 2024   17:07 Diperbarui: 4 April 2024   17:14 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pulang Malu Nggak Pulang Rindu "Mudik Lebaran" - Chapter 16
Ref: Dokpri

Resiko menjadi "Anak Rantau" bila menjelang bulan suci Ramadhan dan mendekati lebaran Idul Fitri "Pikiran sudah ingat kampung" bisa atau tidak bisanya pulang itu urusan nanti "karena yang namanya di kampung" pasti selalu di rindukan.

"Seribu cerita dan sejuta kisah" sampaikan kapanpun, kampung halaman tetap menjadi perjalanan masa lalu yang terus diingat "masa kecil sampai dengan dewasa" menjadi sejarah bila ingat suatu proses kehidupan dari kampung menujuk perantauan Ibukota, yang penuh tantangan dan mengalami lika-liku.

Merujuk dari lagu Band Armanda "Pulang Malu Nggak Pulang Rindu" lagu yang memiliki makna seseorang yang telah meninggalkan rumahnya. "Ia telah merantau selama bertahun-tahun dan jauh dari kampung halamannya. Intinya situasi anak rantau yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan di Negeri orang.

"Sudah bertahun-tahun hidup di perantauan meninggalkan cintaku, jauh dari kampung halaman, aku galau - aku galau jauh dari dirimu". Ada sosok yang dirindukan seorang cinta kasih sayang yang berada di kampung halamannya, termasuk orang-orang yang dicintainya, kedua orang tua, sanak saudara dan orang terdekat lainnya.

"Mengulang 'Pulang malu tak pulang rindu' karena nasib belum menentu, pada siapa aku mengadu? Pulang malu tak pulang rindu". Perjuangan anak rantau yang mengadu nasib di Ibukota, tiada tempat untuk curhat dengan suka dan duka perjalanan hidup diperantauan dengan harapan bisa sukses bersama keluarga tercinta.

"Mempertegaskan kembali "Sudah bertahun-tahun, aku hidup di perantauan aku terus berjuang, pantang pulang sebelum menang". Dengan semangat dan kerja keras untuk memperjuangkan masa depan yang lebih terang, serta tetap bertahan di perantauan sampai dengan sukses serta hidup berkecukupan.

"Mengajak kepada semua anak rantau", sudah lama kutinggalkan kampung halaman, pergi pagi pulang pagi kulakukan
wahai kawan rekan seperjuangan yang bernasib sama". Bertahun-tahun hidup di perantauan, jarang pulang dan menceritakan karena semangat dan pantang menyerah sebelum nasib bisa berubah.

Siapapun yang menjadi anak rantau pasti bisa merasakan, karena nasib belum berubah juga, pekerjaan belum netap, gaji belum seberapa, belum bisa ngirim untuk kedua orang tua, tidak bisa nabung dan nyimpan uang, dan lain sebagainya. Jauh lebih baik, karena sudah mendapatkan pengalaman dan sudah bisa beradaptasi dengan bekerja serta berhadapan dengan orang lain yang belum dikenali sebelumnya.

Sukses di perantauan itu merupakan proses yang tidak menentu, sangat dinamis "indikator sukses itu" seperti contoh kalau baru merantau, tidak perlu memikirkan sukses terlalu jauh karena yang harus dibangun pondasi awalnya jauh lebih penting.

Pondasi yang harus di bangun adalah "mendapatkan pekerjaan yang menerima penghasilan setiap bulannya, mempunyai teman di tempat kerja, bisa mandiri dalam berbagai tindakan, dan menujukkan kedewasaan dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan", segingga secara berlahan mempunyai karakter yang kuat untuk bertahan hidup di perantauan.

Jangan pikirkan bisa nabung atau banyak uang di awal, cari saja teman yang banyak dan pengalaman bertamabah "dengan sendirinya" Anda akan tahu makna sesungguhnya hidup di perantauan "kedua orang tua, sanak saudara di kampung serta orang-orang dekat bahkan cinta kasihnya" akan memahami dan mendukung kondisi di rantauan yang sebenarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun