Rokhman
Rokhman Guru

Guru SD di Negeri Atas Awan

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

[Tradisi Jelang Ramadan] Dari Tenongan hingga Pawai Ta'aruf

18 Mei 2020   06:11 Diperbarui: 18 Mei 2020   06:29 157
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
[Tradisi Jelang Ramadan] Dari Tenongan hingga Pawai Ta'aruf
travel.tempo.co

Wanayasa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang terletak di sebelah utara ibu kota Kabupaten Banjarnegara. Pusat pemerintahannya berada di Desa Wanayasa. Kecamatan Wanayasa terletak di antara 715'09.0 LS dan 10944'48.7 BT. Luas wilayah Kecamatan Wanayasa adalah 92.25 Km2 atau 8,67 % dari luas seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang di utara, Kecamatan Batur dan Kecamatan Pejawaran di timur, Kecamatan Karangkobar dan Kecamatan Pagentan di selatan, dan Kecamatan Kalibening di barat. Kecamatan Wanayasa berjarak kurang lebih 27 km dari ibukota Kabupaten Banjarnegara.

Secara umum dari 17 desa yang ada di Kecamatan Wanayasa masih mempertahankan tradisi nyadran. Tradisi nyadran adalah kegiatan keagamaan dengan melakukan ziarah ke makam leluhur menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Namun, tradisi nyadran saat ini sudah tidak dilakukan dengan upacara ritual khusus seperti dahulu.

Kini, masyarakat yang akan malaksanakan ziarah atau bersih kubur dilakukan sendiri-sendiri. Namun, ada juga desa yang masih menggelar ritual nyadran secara bersama-sama. Seperti yang dilakukan oleh warga Dukuh Pesayangan, Desa Penanggungan yang menggelar tradisi tenongan menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Jelang Ramadan warga dukuh tertinggi di Banjarnegara ini, ramai-ramai membawa tenong (wadah makanan dari anyaman bambu) ke tempat lapang. Ritual ini dilakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan sekaligus membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah puasa.

Tradisi tenongan masih dipertahankan di beberapa desa di Banjarnegara. Namun yang berbeda di Dukuh Pesayangan dilakukan beberapa kali dalam setahun. Tradisi ini juga digelar setelah shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam tradisi ini, tenong yang berisi berbagai jenis makanan seperti tumpeng, ingkung ayam, aneka buah, dan jajan pasar setelah dibacakan doa kemudian dimakan bersama-sama.

Sementara di desa lain tradisi menyambut Ramadan dilakukan dengan cara berbeda. Contohnya di Desa Wanayasa sebagai ibukota kecamatan. Sore jelang 1 Ramadan anak-anak TPQ dan ibu-ibu pawai taaruf keliling desa. Mereka sambut Ramadan dengan sukacita, berkeliling, dan senandungkan lagu-lagu Islami sambil membagikan jadwal imsakiyah.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun