Mgs. Fisika Fikri
Mgs. Fisika Fikri Administrasi

Lakukanlah sesuatu yang kau sukai maka kau tak akan merasakan berkerja sehari pun (Confucius) Membaca dan menulis adalah dua hal yang kusukai.

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Ulama Melek Digital Jaga Tradisi Ulama Nusantara

8 April 2022   23:36 Diperbarui: 9 April 2022   00:02 282
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ulama Melek Digital Jaga Tradisi Ulama Nusantara
Tebuireng.online

Dalam perkembangan dakwah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah memunculkan ulama-ulama yang berhasil menyentuh hati masyarakat. Islam dijadikan bukan sekedar agama yang disimbolkan dalam rutinitas ibadah semata namun Islam lebih dari itu. Islam yang tercederai dengan ulah oknum yang menjadikan Islam sebagai simbol radikalisme kini perlahan namun pasti berubah mengedepankan Islam sebagai Rahmatan Lil 'alamin.

Media sosial sangat berperan penting memunculkan ulama-ulama  yang menjadi panutan masyarakat untuk lebih memperdalam keislaman. Media sosial menjadi sarana bagi para pendakwah bebas berkreasi menyampaikan Islam dengan gaya dakwahnya masing-masing. Kehadiran media sosial dengan berbagai fiturnya  menjadikan masyarakat semakin dekat dengan ulama jika dibandingkan dengan dahulu yang mana masyarakat hanya mengenal ulama-ulama yang sering berdakwah di stasiun televisi saja.

Kehadiran ulama dalam jagad digital  semakin menambah khasanah keislaman. Islam sangatlah luas dan memiliki nilai-nilai universal yang mengedepankan solidaritas kemanusiaan  bukan Islam dengan wawasan sempit yang hanya berpatok dalam beberapa dalil dan tidak menghargai perbedaan. Dari konten digitalisasi dakwah umat dapat memilih ulama yang pantas untuk diikuti yang tentunya memiliki penilaian tersendiri di hati sanubari.

Konten digital yang beredar dalam hitungan detik akan cepat sampai di hadapan umat. Setiap ucapan yang disampaikan memiliki konsekuensi menimbulkan perbedaan di kalangan umat. Belum lagi adanya tangan-tangan "jahil" yang memanfatkan konten digital orang lain untuk meraup keuntungan pribadi dengan memotong video-video dakwah yang seharusnya dipahami secara menyeluruh menjadi potongan video yang menyesatkan yang membuat gaduh di kalangan umat. Para ulama yang melek digital haruslah siap untuk mendapat tanggapan-tanggapan dari para "netizen yang  maha benar".

Sikap moderat para ulama menjadi penentu dalam mencerdaskan umat melalui konten digital yang dibuat. Berdakwah dengan hikmah yang dianjurkan Rasulullah SAW telah berubah ke ranah digital. Jika di zaman Rasulullah SAW mendapat ancaman secara fisik maka ulama di era digital harus siap secara mental terhadap tanggapan umat dari berbagai kalangan dengan tingkat pemahaman yang berbeda-beda.

Inilah medan dakwah yang harus ditaklukan para ulama masa kini. Tantangan para ulama bukan hanya menjaga akidah umat namun juga  menghadirkan konten-konten yang bermakna untuk meredam dinamika umat yang semakin tenggelam dalam kehidupan di media sosial. Kreatifitas dalam melahirkan konten-konten digital sangat penting hingga kehadiran ulama di dunia digital bukan sekedar dua arah seperti dalam mimbar-mimbar dakwah. Para ulama haruslah siap menyediakan ruang para netizen bagaikan seorang sahabat yang senantiasa menjadi tempat curahan hati  sahabatnya.

Semoga para ulama yang hadir di jagad digital semakin mewarnai diri kita kepada nilai-nilai Islam. Kehadiran ulama dalam dunia digital hendaklah menjadi panutan dalam kehidupan kita terutama menjaga sikap moderat dalam beragama. Dengan begitu kehadiran para ulama di dunia digital tak sekedar meramaikan konten belaka namun tetap mengambil peran para ulama nusantara  sejak dahulu kala  yang tak hanya sekedar penasehat di bidang agama namun kehadirannya menyentuh di segala aspek kehidupan mulai dari sosial, ekonomi, budaya hingga percaturan politik. 

Hanya do'a yang dapat tercurahkan agar para ulama terus dilindungi oleh Allah swt sebagaimana doa-doa mereka yang selalu berharap yang terbaik bagi para umat.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun