M RafidhanHindani
M RafidhanHindani Buruh

Aktif dan kritis namun tidak anarkis

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Idul Fitri sebagai Kemenangan Kaum Mustad'afin

2 Mei 2022   01:24 Diperbarui: 2 Mei 2022   01:26 390
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Idul Fitri sebagai Kemenangan Kaum Mustad'afin
Tebar Hikmah Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Pada setiap tahun sudah biasa kita merayakan hari raya idul Fitri. Sebagai ungkapan kemenangan bagi para umat Islam yang menjalankan ibadah puasa selama di bulan suci ramadhan. Hal yang sangat utama bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia adalah bahwa ciri merayakan idul Fitri adalah dengan memakai busana baru, makan opor, ketupat, dan dalam lingkup sosial masyarakat yaitu dengan bermaaf-maafan. Semua hal itu akan sangat lumrah kita temui pada saat hari raya idul Fitri.

Penulis pada dasarnya selama usia 1 sampai 22 tahun berpendapat bahwa idul Fitri adalah perayaan kemenangan dan waktu untuk bersilaturahmi. Akan tetapi kini, penulis bertanya pada diri sendiri " apakah iya, hanya itu esensi daripada idul Fitri itu?". Ternyata ada hal besar, makna daripada idul Fitri itu. Dalam konteks ketuhanan atau tauhid, makna mendalam yang penulis dalami adalah dalam surat Al baqoroh ayat 183. Dalam salah satu kutipan ayat tersebut, Allah mengatakan "kewajiban berpuasa ialah hanya bagi orang-orang yang beriman". Artinya bagi mereka yang memaknai ibadah ini dan melaksanakannya, adalah orang-orang yang paham, sadar dan melaksanakannya sebaik mungkin ibadah ini. Karena ibadah ini muaranya ialah pada kesadaran manusia akan sesamanya, yakni orang miskin yang belum tentu makan dalam waktu 1 hari, dan pelaksanaanya sangat tertutup hanya hamba dan tuhanya yang tahu.

Akhir dari ibadah puasa, pada saat menjelang hari raya idul Fitri ada pelaksanaan zakat fitrah. Zakat fitrah adalah sebuah perintah Allah bagi manusia untuk peduli dengan manusia yang lainya. Artinya kemenangan atau idul Fitri ini hanya  disandangkan pada mereka yang senantiasa membantu sesamanya dengan berzakat dan dapat merasakan lapar, haus dan menjaga diri dari segala hal yang penuh kenikmatan supaya mengasah rasa kepekaan diri kita. Maka nilai-nilai ketauhidan itu pada dasarnya ialah menegakan tindakan-tindakan kemanusiaan. Maka, jika dalam perayaan hari raya idul Fitri sifat dalam diri kita jauh dari hal-hal kepekaan dan kepedulian pada saaudara kita yang kesusahan atau kaum mustad'afin, kemudian ditutup dengan menjernihkan hati, memaafkan segala kekhilafan suadara-saudara kita dengan jernih dan tanpa kata "tetapi." maka kita insya Allah kita adalah pemenang dan seterusnya akan menjadi pemenang.





 pemenang dalam hari raya idul Fitri ini.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun