Tino Rahardian
Tino Rahardian Jurnalis

Masa muda aktif menggulingkan pemerintahan kapitalis-militeristik orde baru Soeharto. Bahagia sbg suami dgn tiga anak. Lulusan Terbaik Cumlaude Magister Adm. Publik Universitas Nasional. Secangkir kopi dan mendaki gunung. Fav quote: Jika takdir menghendakimu kalah, berikanlah dia perlawanan yang terbaik [William McFee].

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Lebaran Minimalis dan Ekonomi Bangsa yang Tidak Baik-Baik Saja

31 Maret 2025   00:02 Diperbarui: 31 Maret 2025   11:12 828
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lebaran Minimalis dan Ekonomi Bangsa yang Tidak Baik-Baik Saja
Silahturahmi merayakan lebaran Idulfitri dengan video call.(Foto: SHUTTERSTOCK/Gatot Adri via Kompas.com)

Ketika kita bisa merayakan Lebaran dengan hati yang ikhlas, tanpa terbebani oleh keinginan untuk tampil mewah, kita justru akan menemukan kebahagiaan yang lebih mendalam dan lebih kekal.

Lebaran Minimalis juga memberikan peluang bagi umat Muslim untuk lebih fokus pada nilai-nilai yang sebenarnya penting: mempererat ukhuwah (persaudaraan), memperbanyak amal ibadah, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang membutuhkan.

Di tengah kesulitan ekonomi, memberikan sedikit dari apa yang kita miliki kepada mereka yang kurang beruntung adalah bentuk nyata dari kepedulian sosial yang sejati.

Kesimpulan

Lebaran minimalis bukan hanya soal mengurangi pengeluaran atau merayakan dengan sederhana, tetapi lebih kepada memaknai kembali inti dari perayaan Idul Fitri itu sendiri. 

Dalam konteks Indonesia yang sedang menghadapi kondisi ekonomi yang memprihatinkan, konsep ini sangat relevan untuk diterapkan, terutama bagi mereka yang merasa terbebani oleh tekanan finansial. 

Sebagai umat Muslim, kita diajarkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama, bukan pada kemewahan materi. 

Oleh karena itu, Lebaran minimalis adalah pilihan yang tepat untuk menyambut hari kemenangan dengan penuh makna, kesederhanaan, dan keberkahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun