riap windhu
riap windhu Sales

Menulis untuk kebaikan

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Artikel Utama

Suka Duka Dana Terbatas, Sajian Menu Idul Fitri Harus Tetap Pantas

28 Maret 2025   23:49 Diperbarui: 31 Maret 2025   11:17 869
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suka Duka Dana Terbatas, Sajian Menu Idul Fitri Harus Tetap Pantas
Menyajikan menu Idul Fitri ada suka dukanya (dok.windhu)

Sebagai salah satu yang dituakan sekarang, ibu nggak ingin memberi kesan tidak bisa menyajikan menu idul fitri yang serba terbatas. Semua yang datang ke rumah, sebisa mungkin harus bisa mencicipi lezatnya makanan yang enak dan melimpah sehingga tamu yang menyantapnya tidak ragu-ragu menikmati.

Bukannya Nggak Mau Berbagi, tapi harus Kompromi

 Ibu bilang, alasan sajian menu makanan harus tersedia komplit adalah karena lebaran itu hari raya kemenangan. Sebulan penuh menahan berpuasa. Jadi memang wajar untuk merayakannya dengan menu yang bagus dan baik.

Lebih dari itu, ibu selalu menekankan jangan sampai malu-maluin kalau ada tamu datang, menu makanan yang tersaji tidak terlihat pantas. Kue-kue juga harus yang rasanya enak. Pantang menyajikan kue yang nggak enak dan nggak disuka oleh orang rumah tapi disuguhkan kepada orang lain.  

Begitu adzan berbuka puasa hari terakhir, ketupat dan hidangan lebaran harus sudah ada. Sehingga, sudah bisa dibagikan kepada sejumlah tetangga.

"Jangan banyak-banyak tetangga yang dibagikan makanan lebaran," kataku.

"Lho nggak bisa, tetangga yang suka ngasih oleh-oleh atau makanan harus dikirim," tegas ibu.

Menurut ibu, jika kita diberi sesuatu maka suatu saat harus  mengembalikannya. Lebaran merupakan salah satu sarana yang tepat untuk itu. Saling berbagi dan bertukar makanan dapat memupuk dan menjaga  silahturahmi.

Ketupat Lebaran (dok.windhu)
Ketupat Lebaran (dok.windhu)

Bukannya Malas, Air Kemasan Juga Oke

 Sebagai pelengkap makanan hari raya, biasanya juga disuguhkan minuman manis.  Terutama untuk para tamu. Sirup, kopi, atau teh manis ditawarkan juga bagi yang datang ke rumah. Kalau air putih, sudah pasti selalu ada.

"Nggak perlu banyak-banyak menyediakan yang manis-manis. Air putih juga oke," kataku menunjuk air minum kemasan berbentuk gelas.

"Lho, orang kan cuma sekali-sekali datang ke rumah. Kalau memang ada minuman manis, ya tawarkan saja, jangan air putih saja," tukas ibu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

Nunggu Bedug Makin Seru di Bukber Kompasianer

Selain buka puasa bersama, Kompasiana dan teman Tenteram ingin mengajak Kompasianer untuk saling berbagi perasaan dan sama-sama merefleksikan kembali makna hari raya.

Info selengkapnya: KetemudiRamadan2025

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun