Richardus Beda Toulwala
Richardus Beda Toulwala Penulis

Menulis dari Kegelisahan

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Fenomena Fluktuasi; Mafia Meningkat di Bulan Suci

29 April 2020   08:06 Diperbarui: 29 April 2020   08:15 500
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fenomena Fluktuasi; Mafia Meningkat di Bulan Suci
Teropongntt.com

Fenomena ini bisa disebabkan oleh dua hal, yakni bulan Ramadan atau Virus Corona. Kebiasaan di Indonesia adalah menaikan harga barang khususnya sembako ketika bulan Ramadan tiba. Padahal, umat Muslim justru hanya makan sehari dua kali dibandingkan biasanya sehari bisa tiga kali atau bahkan lebih. Bagaimana harga barang yang dikendalikan oleh pedagang nakal itu bisa meningkat di bulan yang penuh berkah ini? Hal itu tidak ada beda dengan meningkatnya jumlah penjahat atau mafia ekonomi di bulan suci.

Di sisi lain, rasionalitas fluktuasi harga juga bisa disebabkan oleh pandemi covid-19 yang tak habis-habisnya. Lock down dan social distance menyebabkan masyarakat sulit mencari uang, akibatnya pengeluaran terus meningkat dan pendapatan mengalami stagnasi. Hal ini kemudian berdampak pada terganggunya stabilitas ekonomi.

Lock down dan social distance jelas menyebabkan pereokomian masyarakat lumpuh. Kedua faktor itu juga membuat nilai jual komoditi seakan merangkak. Anjloknya ekonomi masyarakat disebabkan karena permintaan yang terus meningkat sedangkan penawaran (hasil komoditi) mengalami penurunan. Itu artinya, ketergantungan masyarakat terhadap sembako dari luar daerah masih kuat.

Kondisi ekonomi masyarakat ini diperparah dengan kegenitan pedagang-pedagang yang mengambil keuntungan di situasi krisis seperti ini. Apalagi ketika Ramadan tiba, para pedagang melakukan kebiasaan buruk yakni seenaknya menaikkan harga barang.

Keterpurukan ini harus segera diatasi sehingga tidak menjadi tontonan yang memilukan. Hemat saya, masyarakat dan pemerintah harus berjibaku untuk mengatasi krisis ini. Kondisi terburuk seharusnya sudah dapat dibayangkan. Bahwasannya bila realitas ini terus berlanjut maka kelaparan bisa saja terjadi dan umat Muslim yang menjalani puasa dan ibadahnya di bulan paling suci ini pun terganggu.

Aspek permintaan yang terlalu tinggi oleh masyarakat segera mungkin ditekan. Ketergantungan terhadap sembako 'luar' harus segera diakhiri dan serentak mengandalkan pangan lokal. Untuk apa keladi dan ubi di kebun berlimpah ruah tetapi nihil pemanfaatannya. Budaya konsumtif di era pandemi dan bulan suci Ramadan juga mestinya dihilangkan. Kebiasaan menuruti keinginan untuk makan yang enak untuk sementara dihentikan demi penghematan.

Sementara kebiasaan pada bulan puasa seperti membeli atau membuat lebih banyak makanan dan minuman dari biasanya dipertimbangkan lagi. Hal itu sebaiknya ditekan karena dengan mengontrol kebutuhan akan membantu menekan peningkatan angka permintaan di pasar.

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki andil yang signifikan dalam menangani fluktuasi lokal seperti ini. Pemerintah daerah khususnya di daerah Flores harus serius meningkatkan pengontrolan dan penindakan tegas terhadap  mafia ekonomi yang tanpa beban asyik bermain harga. Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga mulai serius memikirkan diversifikasi pangan lokal sebagai alternatif  bila nanti suplai sembako 'luar' anjlok atau harganya melonjak drastis.

Terhadap semuanya itu, sinergisitas antara masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan dalam keadaan seperti ini. Pemerintah tidak harus dijadikan sebagai umpatan masyarakat oleh karena realitas kekhaosan yang ada, dan sebaliknya masyarakat tidak dijadikan sebagai sapi perahan para mafia ekonomi yang berkeliaran bebas di pasar-pasar gelap tanpa dikontrol pemerintah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun