Nova Rio Redondo
Nova Rio Redondo Mahasiswa

Mahasiswa Teknologi Informasi UIN Walisongo Semarang. Personal Blog: novariout.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

TRADISI Artikel Utama

Cukup Ramadan Saja yang Pergi, Imannya Jangan Ikutan

19 April 2023   07:41 Diperbarui: 23 April 2023   02:15 2740
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cukup Ramadan Saja yang Pergi, Imannya Jangan Ikutan
Ilustrasi Lebaran, suasana lebaran. (sumber: Shutterstock/Creativa Images via kompas.com) 

Tidak terasa bulan Ramadan tahun ini hanya meyisakan beberapa hari lagi. Setiap tahunnya Ramadan selalu menciptakan kenangan yang dinanti dan membekas di hati. 

Walaupun kepergiannya dilepas dengan kesenangan di idul fitri, tapi tetap saja akan ada rasa sedih saat meninggalkannya atau mengingatnya kembali.

Bulan penuh ampunan ini memang membuat seluruh umat muslim menantikan kehadirannya, dikarenakan pada bulan ini memang terdapat keistimewaan didalamnya. 

Mulai dari awal sampai akhir bulan, mulai dari pagi sampai malam, mulai dari sahur hingga berbuka selalu ada berkah yang berlimpah.

Bulan Ramadan memang waktu yang tepat untuk umat muslim meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya dengan cara meningkatkan ibadah dan beramal soleh. Jadi tidak heran jika masjid atau mushola terlihat lebih ramai saat bulan Ramadan tiba.

Bahkan dengan datangnya bulan Ramadan ini banyak sekali orang yang mengejar amalan sunah hanya untuk mendapat ridho dari Allah SWT. Salah satu sunah yang paling sering dikerjakan pada bulan Ramadan di Indonesia adalah ibadah sholat tarawih.

Dengan meningkatnya keimanan seseorang, maka akan semakin besar juga cobaan didalam hidupnya, sesuai dengan hadis berikut:

Diriwayatkan dari Sa'ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata, Aku bertanya: wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?

Illustration: people leave Ramadan | onepathnetwork.com
Illustration: people leave Ramadan | onepathnetwork.com

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab.

"Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa."  (HR. At-Turmudzi no. 2322 dan Ibnu Majah no. 4013)

Bisa dibilang cobaan merupakan barometer tingkat keimanan sesorang, selain itu cobaan merupakan penggugur dosa yang telah dilakukan oleh seseorang.

Jadi saat sesorang bertambah keimananya setelah bulan Ramadan maka akan ada rintangan yang bertujuan untuk menguji keimanan orang tersebut. Mungkin bisa dengan kesibukan yang dapat melupakan kewajiban beribadah atau hal yang tak terduga lainnya.

Karena kita semua bukan Nabi yang setelah mendapatkan cobaan keimanannya akan bertambah, maka bisa dibilang hal yang wajar jika keimanan seseorang bisa menurun setelah datangnya Ramadan atau setelah datangnya sebuah cobaan. 

Tapi jangan salah, banyak juga orang yang mampu mempertahankan konsistensinya dalam beribadah setelah bulan Ramadan.

Ibadah yang baik adalah ibadah yang dilakukan secara konsisten. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ibadah yang baik adalah ibadah yang dilakukan dengan konsisten, kendati tidak terlalu besar bentuknya.

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit." (HR Bukhari)

Semoga saja kita semua setelah Ramadan ini selesai dapat terus menjaga keimanan dan melakukan ibadah dengan konsisten serta dengan rasa ikhlas. Keimanan itu mahal harganya ges.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun