Supartono JW
Supartono JW Konsultan

Bekerjalah dengan benar, bukan sekadar baik

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

1445 H (25) Mencintai dan Rasa Memiliki yang Fakta dan Drama

4 April 2024   10:55 Diperbarui: 4 April 2024   12:00 690
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
1445 H (25) Mencintai dan Rasa Memiliki yang Fakta dan Drama
Ilustrasi Supartono JW


Selain Pemilik langit, bumi, dan seluruh alam, pikiran dan hati nurani manusia terkaitlah, yang tahu bahwa dalam mencintai dan merasa memiliki terhadap "sesuatu", baik perkara akhirat dan dunia, fakta atau drama.

(Supartono JW.04042024)

Sesuai pikiran dan hati nurani saya, dalam mencintai dan merasa memiliki sesuatu tentang perkara akhirat dan dunia, mana yang fakta dan mana yang drama, saya tahu.

Karenanya, di bulan yang penuh berkah dan ampunan, Ramadan 1445 Hijriah, artikel ke-25, saya mengingatkan dan mengajak diri saya sendiri untuk dapat mengubah rasa mencintai dan  rasa memiliki terhadap sesuatu baik perkara akhirat dan dunia yang masih dalam taraf drama, menjadi fakta. Selaras lisan dan perbuatannya dengan kenyataan.

Kekasih Allah

Seperti doa Ramadan hari ke-25 yang artinya:
"Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini lebih mencintai para wali-Mu dan memusuhi musuh-musuh-Mu. Jadikanlah aku pengikut sunnah Nabi penutup-Mu. Wahai yang menjaga hati para nabi."

Sesuai KBBI, mencintai adalah menaruh kasih sayang kepada atau menyukai. Dengan begitu, orang yang mencintai, biasanya akan ada perasaan memiliki terhadap yang dicintai (Sense of belonging) secara positif, benar, dan baik.

Terkait mencintai para wali-Nya, sesuai dengan doa hari ke-25, selain nabi dan rasul, dalam Islam dikenal pula istilah waliyullah atau wali Allah. Dalam Al-Qur'an, waliyullah diartikan sebagai kekasih Allah SWT.

Mengutip buku Waliyullah Perspektif Al-Qur'an: Penafsiran Ibnu Taimiyah tentang Kekasih Allah oleh Badrudin, kata waliyullah merupakan gabungan dari kata "wali" dan "Allah". Lafaz "wali" adalah turunan dari kata "walyu" yang artinya dekat atau kedekatan.

"Wali" merupakan bentuk tunggal, sementara bentuk jamaknya yakni "awliya". Bentuk jamaknya inilah yang disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Jumu'ah ayat 6 dan memiliki arti para kekasih Allah SWT.

Dalam Surat Yunus ayat 62-63 dijelaskan pula bahwa, waliyullah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta tidak memiliki perasaan takut maupun sedih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun