Syamsuddin
Syamsuddin Guru

Pembelajar sejati, praktisi dan pemerhati pendidikan

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Perang Badar, Perang Besar yang Terjadi pada 17 Ramadan

9 April 2023   13:37 Diperbarui: 10 April 2023   12:56 1656
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Perang Badar, Perang Besar yang Terjadi pada 17 Ramadan
Ilustrasi Pesang Badar/Photo:https://modo3.com

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadan adalah perang badar (ghazwah badr). Disebut pula dengan ghazwah badar kubra atau perang badar yang agung. Nama badar merujuk pada tempat bernama lembah badar yang lokasi peristiwa perang ini.

Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 H (1442 tahun lalu). Dan dipimpian langsung oleh Rasulullah shallalhu 'laihi wa sallam. Penyebab perang ini  bermula ketika Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam sariyah (detasemen) untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan  dari Syam menuju Makkah. Namun kafilah dagang ini ternyata lolos dari hadangan sariyah diutus oleh Nabi. Abu Sufyan beserta rombongannya sampai ke Mekah dengan selamat.

Sebelum berhasil lolos Abu Sufyan mengutus seorang kurir benama Dhamdham bin Amr ke Meekah untuk menyampaikan agar Mekkah menyiapkan pasukan yang diharapkan mengawal rombongan dagang yang dibawahnya. Orang kafir Quraisyi merespon permintaan Abu Sufyan tersebut dengan mengerahkan pasukan perang. Sekitar 1000 personel dikerahkan menuju Madinah. 600 diantaranya prajurut infanteri dan 100 prajurit kavaleri (pasukan berkuda). Semuanya mengenakan baju besi. Selain itu mereka juga membawa  serta 700 Unta.

Pasukan perang Quraisy bergerak menuju Medinah. Di tengah perjalanan mereka mendapat kabar bahwa rombongan Abu Sufyan berhasil lolos. Namun pasukan perang berkekuatan 1000 personil yang dipimpin Abu Jahal cs tetap melanjutkan perjalaan untuk menyerang Madinah. Mereka pasukan besar untuk menyerang Madinah. Turut serta dalam rombongan pasukan tersebut turut beberapa budak perempuan yang bertugas menabuh rebana serta mendendangkan syair dan nyanyian yang berisi hinaan dan cacian kepada kaum Muslimin.

Kabar lolosnya Abu Sufyan dan pergerakan pasukan perang musyrikin Quraisy di bawah komando Abu Jahal, Utbah bin Rabi'ah, dll sampai kepada Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga Rasulpun merubah rencana. Beliau mengajak para sahabat untuk menyambut serangan pasukan musyrikin Mekkah yang sedang bergerak menuju Medinah.

Sebelum bergerak Rasulullah meminta pendapat para sahabat melalui musyawarah. Beliau meminta persetujuan kaum Ansar dan Muhajirin untuk ikut serta dalam  peperangan. Beliau meminta izin dan persetujuan karena awalnya mereka keluar bukan untuk berperang, tapi hanya untuk menghadang rombongan dagang. Respon pertama disampaikan oleh kaum Muhajirin. Mereka menyambut baik ajakan dan instruksi Nabi. Dimulai oleh Abu Bakar, menyusul Umar, dan sahabt lainnya dari kalangan Muhajirin.

Namun Rasulullah nampaknya masih menanti suara dari kaum Ansar. Maka tampillah Sa'ad bin Ubadah. "Nampaknya anda menginginkan suara/sikap kami wahai Rasul? Demi Allah andai engkau menyuruh kami mengarungi lautan kami akan mengarunginya". Demikian pula dengan Sa'ad bin Muadz yang dengan lantang mengatakan bahwa, "kami telah mempercayai dan membenarkamu wahai Rasulullah. Lanjutkanalah  misimu wahai Rasulullah, kami akan selalu bersamamu.  . . . Sungguh kami akan mengikuti perang dengan sabar dan bersungguh-sungguh dalam pertempuran". Rasulullah sangat berbahagia dengan kata-kata Sa'ad bin Muadz .

Kemudian Rasulullah bergerak bersama pasukan kaum Muslimin yang terdiri dari tiga ratus belasan (313 atau 314) personel. Mereka hanya membawa 70 ekor Unta dan 2 atau 3 ekor kuda. Dua ekor kuda tersebut masing-masing dikendarai oleh Miqdad bin Aswad dan Zubair bin Awwam. Sementara 70 ekor Unta dikendarai oleh 2-3 orang secara bergantian. Termasuk nabi shalllahu 'laihi wa sallam mengendari satu Unta secara bergantian bersama Ali bin Thalib dan Martsad bin Abi Martsad. Dalam riwayat lain beliau bersama Ali dan Abu Lubabah.

Ada satu pemandangan fenomenal dalam urusan giliran naik Unta ini. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menuturkan, ''ketika terjadi perang Badar, sepanjang perjalanan setiap tiga orang bergantian mengendarai satu Unta. Abu Lubabah dan Ali sekelompok dengan Rasulullah. Setiap kali tiba giliran Rasulullah untuk turun dan berjalan, Ali dan Abu Lubabah berkata, "Biarkan  kami berdua yang tetap berjalan wahai Rasulullah". Maka Rasul berkata, "Kalian berdua tidaklah lebih kuat dariku sedangkan akupun masih mengharapkan pahala yang kalian dapat". (terj. HR. Ahmad)

Panji agung  kaum Muslimin diusung oleh Mush'ab bin Umair radhiyallanhu 'anhu. Selain itu Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam juga memberikan panji detasemen  ('alam katibah) kepada masing-masing dari Muhajirin dan Ansar. Panji detasemen Ansar diusung oleh Sa'ad bin Mu'adz, sedangkan panji detasmen Muhajirin diususn oleh  Ali bin Abi Thalib. Sayap kanan  pasukan Muslimin dipimpin oleh Zubair bin Awwam radhiyallahu 'anhu, sedangkan sayap kiri dipimpin oleh Miqdad bin 'Amr. Sebagai panglima utama adalah Rasulullah shallalhu 'alaihi wa sallam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun